Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Literasi Keuangan Jadi Penopang Masa Depan Anak Muda

Angka inklusi keuangan capai 93,61%, namun literasi keuangan masih rendah di angka 69,57%, memicu risiko pinjol ilegal dan investasi bodong yang mengancam generasi muda.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 15.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Literasi Keuangan Jadi Penopang Masa Depan Anak Muda
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kenaikan tingkat inklusi keuangan nasional hingga 93,61% menunjukkan kemudahan akses layanan keuangan bagi masyarakat. Namun, di tengah kemudahan tersebut, tingkat literasi keuangan yang baru mencapai 69,57% pada tahun 2026 justru menjadi titik lemah yang rentan dimanfaatkan oleh praktik keuangan ilegal. Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Demokrat, Marwan Cik Asan, menyoroti hal ini sebagai ancaman nyata terhadap generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa yang terjebak dalam praktik pinjaman online tanpa izin dan investasi menipu.

Dalam kesempatan hadir di Lampung Financial Festival, ia menekankan bahwa akses digital yang luas justru berpotensi menjerumuskan jika tidak disertai pemahaman finansial yang memadai. Banyak dari mereka yang menganggap diri cerdas secara finansial justru terjerat utang akibat pinjol ilegal, mengancam masa depan ekonomi dan psikologis mereka. Marwan menekankan bahwa kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara bijak, bukan menjadi alat yang memperdalam ketergantungan dan kerentanan finansial.

Ia menyatakan bahwa perlu upaya kolektif dari pemerintah, lembaga keuangan, hingga pendidikan untuk memperkuat literasi keuangan secara masif. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat, terutama generasi muda, bisa memanfaatkan teknologi digital untuk aktivitas produktif seperti berdagang daring, mencipta konten, atau mengelola keuangan pribadi secara sehat. Tanpa literasi, kemudahan akses justru bisa menjadi jebakan.

Marwan menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan soal akses, melainkan kemampuan untuk mengelolanya secara bertanggung jawab. Ia meminta agar pendidikan keuangan diperkuat di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari sekolah hingga komunitas lokal, demi menciptakan generasi yang tidak hanya terhubung digital, tetapi juga tangguh secara finansial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya