Malaysia Gelar Rapat Darurat Atasi Lonjakan Tagihan Listrik
Pemerintah Malaysia menggelar rapat khusus untuk menangani kenaikan tagihan listrik yang dirasakan sebagian rumah tangga akibat lonjakan konsumsi akibat cuaca panas dan kabut asap.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 22.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah Malaysia akan segera menggelar pertemuan khusus pada Kamis untuk merespons keluhan masyarakat terkait kenaikan tagihan listrik yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Rapat ini dipicu oleh meningkatnya penggunaan energi di sejumlah rumah tangga, terutama akibat kondisi cuaca ekstrem dan kabut asap yang menyebabkan penggunaan pendingin ruangan melonjak.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengonfirmasi langkah penanganan melalui media sosial, menegaskan bahwa persoalan ini mendapat perhatian tinggi dari pemerintah pusat. Ia menyatakan bahwa rapat akan melibatkan sejumlah instansi kunci, termasuk Kementerian Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA), Komisi Energi (EC), Tenaga Nasional Bhd (TNB), serta Kementerian Keuangan (MoF), untuk mengevaluasi respons terhadap dampak ekonomi terhadap rumah tangga.
Anwar menekankan bahwa kebijakan subsidi tertarget tetap menjadi prioritas, khususnya bagi pengguna listrik domestik yang mengonsumsi hingga 600 kilowatt-jam per bulan. Sekitar 80 persen rumah tangga dengan konsumsi di bawah ambang batas tersebut tetap terlindungi dari kenaikan tarif meski biaya bahan bakar naik tahun ini. Namun, lonjakan konsumsi akibat suhu tinggi dan kabut asap telah membuat sebagian pengguna melampaui ambang tersebut.
Ketika melebihi batas 600 kWh, pengguna dikenakan mekanisme Penyesuaian Biaya Bahan Bakar Otomatis (AFA), yang berdampak langsung pada tagihan bulanan. Sejak pelaksanaan AFA sejak Juli 2025, konsumen telah menerima rabat senilai 3,1 miliar ringgit (sekitar Rp13,5 triliun), sementara pemerintah menyalurkan tambahan dana 435 juta ringgit (sekitar Rp1,9 triliun) untuk menekan beban ekonomi masyarakat.
Anwar menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat tetap menjadi fokus utama dalam kebijakan energi. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah mitigasi akan terus dievaluasi dan diperkuat agar tidak menimbulkan beban berlebihan bagi rumah tangga, terutama di masa transisi energi dan perubahan iklim yang terus berlanjut.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Demonstrasi Besar di Kongo Tuntut Penolakan Perpanjangan Jabatan Presiden
Ratusan warga di Kinshasa dan kota besar lainnya menggelar unjuk rasa menolak usulan amandemen konstitusi yang memungkinkan Presiden Felix Tshisekedi berjabat tiga periode.
16 September 2026

Pemerintah Kaji Aturan Baru Distribusi LPG 3 Kg Berbasis Kesejahteraan
Peningkatan konsumsi LPG 3 kg mendorong pemerintah menyiapkan kebijakan baru dengan pembatasan berdasarkan klasifikasi kesejahteraan masyarakat.
16 September 2026

Prabowo Dorong Implementasi E20 pada 2028
Presiden Prabowo memimpin rapat terbatas untuk percepatan program E20, dengan target implementasi pada 2028 melalui ketersediaan lahan dan pengembangan industri pengolahan bioetanol.
16 September 2026

LRT Jakarta Resmi Beroperasi, Tarif Awal Rp8 untuk Warga
Presiden Prabowo meresmikan LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai dengan tarif promosi Rp8 selama delapan hari pertama, diikuti tarif tetap Rp5.000 setelahnya.
16 September 2026
Berita Lainnya

Hindari Minuman Manis dan Kafein Saat Kemarau
Rabu, 16 September 2026, 22.44 WITA

Modifikasi Bumper Tajam pada LCGC Dilarang Polisi
Rabu, 16 September 2026, 22.43 WITA

Sindikat Palsukan SIM di Riau Raup Keuntungan Besar
Rabu, 16 September 2026, 22.43 WITA

Redmi Note 17 Pro Max Diluncurkan, Bawa Baterai 10.000mAh dan Performa Ekstrem
Rabu, 16 September 2026, 22.36 WITA

AS dan Jerman Tekankan Reformasi Korupsi Irak
Rabu, 16 September 2026, 22.35 WITA

Menteri Keuangan Pertimbangkan Ulang Mutasi Pejabat Era Purbaya
Rabu, 16 September 2026, 22.35 WITA

25 Merek Beras Fortifikasi Ilegal Dicabut Izinnya
Rabu, 16 September 2026, 22.34 WITA

Pengembang Properti Australia Tengah Krisis, Ratusan Proyek Terancam Gagal
Rabu, 16 September 2026, 22.34 WITA


