Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Neraca Dagang RI Kembali Surplus US$120 Juta di Juli 2026

Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$120 juta pada Juli 2026, didorong kenaikan ekspor nonmigas dan penurunan defisit migas dibanding bulan sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 13.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Neraca Dagang RI Kembali Surplus US$120 Juta di Juli 2026📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juli 2026 menunjukkan tren pemulihan dengan membukukan surplus sebesar US$120 juta, setelah dua bulan sebelumnya mencatat defisit masing-masing US$1,6 miliar pada Mei dan US$450 juta pada Juni. Peningkatan kinerja ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor menjadi pemicu utama terjadinya surplus ini, dengan nilai ekspor mencapai US$26,22 miliar dan impor sebesar US$26,09 miliar. Pergerakan ini menandai perbaikan signifikan dalam keseimbangan perdagangan nasional setelah dua bulan terus mengalami tekanan.

Kinerja ekspor nonmigas tumbuh 6,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai US$25,43 miliar, didorong oleh kenaikan pada sektor industri pengolahan yang mencapai US$21,76 miliar, naik 6,03 persen dari US$20,52 miliar pada Juli 2025. Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya mencatat pertumbuhan 14,85 persen, dengan nilai ekspor US$3,10 miliar. Di sisi lain, ekspor migas turun 14,58 persen menjadi US$790 juta, seiring dengan penurunan ekspor lemak dan minyak hewani/nabati yang menjadi komoditas utama dalam kelompok tersebut.

Pada sisi impor, total nilai mencapai US$26,09 miliar, naik 27,02 persen dari US$20,54 miliar pada Juli 2025. Peningkatan ini didominasi oleh impor migas yang melonjak 49,91 persen menjadi US$3,77 miliar, serta impor nonmigas yang naik 23,83 persen menjadi US$22,33 miliar. Komoditas bahan baku/penolong menyumbang sebagian besar, dengan nilai impor US$18,76 miliar, meningkat 32,33 persen, disusul impor barang modal sebesar US$5,10 miliar atau naik 17,38 persen dibanding tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menegaskan bahwa surplus pada Juli 2026 menjadi indikator positif terhadap ketahanan struktural ekonomi nasional, terutama dalam menangani tekanan dari kenaikan harga komoditas global dan dinamika permintaan global. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekspor nonmigas yang stabil menjadi penopang utama kinerja perdagangan, meski impor tetap tinggi, terutama pada bahan baku dan modal. Upaya diversifikasi ekspor dan pengelolaan impor secara efisien tetap menjadi fokus strategis pemerintah dalam menjaga keseimbangan perdagangan jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya