Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Netanyahu Jr. Kena Kritik Keras di Inggris Usai Sebut Falkland Milik Argentina

Komentar Yair Netanyahu soal Kepulauan Falkland sebagai milik Argentina memicu kecaman luas dari politisi Inggris, baik dari sayap kanan maupun kiri, karena menyinggung kedaulatan negara.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 17.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Netanyahu Jr. Kena Kritik Keras di Inggris Usai Sebut Falkland Milik Argentina
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pernyataan Yair Netanyahu, putra perdana menteri Israel, yang menyebut Kepulauan Falkland sebagai milik Argentina, memicu gelombang kemarahan di Inggris. Unggahan berbahasa Spanyol tersebut tersebar luas di media sosial dan langsung menuai reaksi tajam dari berbagai kalangan politik. Kritik paling tajam datang dari tokoh sayap kanan, termasuk pemimpin partai Restore Britain, Rupert Lowe, yang menekankan bahwa wilayah tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari kedaulatan Inggris.

Lowe menegaskan bahwa Inggris siap bertindak tegas, bahkan berperang jika diperlukan, untuk mempertahankan wilayah yang telah menjadi sumber ketegangan sejak invasi Argentina pada 1982. Ia menyatakan bahwa komentar Yair justru melemahkan posisi Israel di kalangan kelompok yang biasanya mendukung Israel, terutama di kalangan sayap kanan Inggris.

Mantan anggota parlemen Partai Konservatif, Conor Burns, menyebut pernyataan tersebut sebagai tindakan "bodoh" yang dapat merusak hubungan diplomatik dan dukungan politik yang sudah lama dibangun. Ia memperingatkan bahwa narasi yang menyerang negara sekutu seperti Inggris justru bisa memperkuat posisi lawan dalam diplomasi internasional.

Di sisi lain, Yair Netanyahu juga menyebut pemerintahan Argentina di bawah Presiden Javier Milei lebih pro-Israel dibandingkan Inggris. Ia menuding London melakukan "kemunafikan dan permusuhan" terhadap Israel melalui pengakuan terhadap negara Palestina, serta mendukung narasi antisemitisme dan fitnah darah. Pernyataan ini dilihat sebagai upaya diplomasi balik, namun justru memperkeruh suasana politik di Inggris.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya