Netanyahu Yakin Rezim Iran Akan Runtuh Akibat Tekanan Militer dan Ekonomi
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan keyakinan bahwa rezim Iran kini dalam kondisi lemah dan rentan tumbang akibat serangan berturut-turut dari AS serta tekanan ekonomi global.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 11.47 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 11x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan keyakinan kuat bahwa rezim Republik Islam Iran sedang dalam masa kritis, dengan stabilitas internal yang terus menurun. Dalam pidato di hadapan para pejabat militer tinggi, ia menekankan bahwa negara yang dipimpin oleh para ulama tersebut kini berada dalam posisi yang lebih rapuh dibanding sebelumnya, terutama setelah serangan balik terhadap infrastruktur strategis yang dilancarkan oleh Amerika Serikat.
Netanyahu menegaskan bahwa ancaman Iran tidak lagi bersifat jangka panjang, melainkan dapat diatasi dalam waktu dekat. Ia menyatakan bahwa tugas utama bagi Israel adalah menghancurkan ancaman tersebut secara permanen, dan menilai bahwa langkah itu kini berada dalam jangkauan realistis. “Rezim ini sedang berjuang untuk bertahan. Kekuatan mereka menipis, dan momentum sedang menguntungkan kita,” ujarnya.
Serangan terhadap Iran, yang dimulai kembali pada akhir pekan ini, merupakan bagian dari strategi koordinasi antara Israel dan AS, meskipun sebelumnya ada intervensi tiba-tiba dari Presiden Amerika Serikat yang menghentikan aksi militer secara mendadak. Namun, kini tekanan ekonomi dan operasi militer telah kembali diperkuat, menimbulkan dampak signifikan terhadap kemampuan Iran untuk mempertahankan dominasi regional.
Iran merespons dengan menyerang sekutu AS di wilayah Teluk, termasuk Yordania dan wilayah otonom Kurdistan di Irak, namun secara strategis menghindari serangan langsung terhadap wilayah Israel. Langkah ini menunjukkan kalkulasi politik yang cermat, tetapi tidak mengurangi kekhawatiran Israel atas eskalasi lebih lanjut. Netanyahu tetap bersikeras bahwa tujuan akhir—penggulingan rezim Iran—adalah bukan imajinasi, melainkan tujuan strategis yang sedang mendekati realisasi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Kanye West Tutup Konser GBK dengan Runaway Emosional
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

