Nusantara Rising Dorong Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Kadin Indonesia meluncurkan gerakan kolaboratif Nusantara Rising untuk mengoptimalkan budaya sebagai kekuatan lunak dan mesin ekonomi global.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 14.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia resmi meluncurkan inisiatif strategis bernama Nusantara Rising: Indonesia’s Collective Soft Power Movement, sebagai langkah konkret memperkuat pengaruh budaya nasional di kancah internasional. Peluncuran dilakukan di Jakarta dan menjadi kelanjutan dari dokumen Indonesia Soft Power Paper yang dirancang bersama pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan. Gerakan ini menekankan pentingnya transformasi budaya dari warisan sejarah menjadi sumber daya ekonomi dan daya tarik global.
Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Kadin Indonesia, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, meliputi ribuan suku, ratusan bahasa daerah, serta tradisi musik, tari, kuliner, dan cerita rakyat. Namun, nilai tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, budaya harus dipandang sebagai aset strategis yang mampu menciptakan nilai ekonomi, inovasi, dan daya pengaruh internasional jika dikelola dengan pendekatan kreatif dan kolaboratif.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Kadin mengusulkan pembentukan Komite Soft Power Indonesia sebagai wadah kolaborasi lintas sektor. Komite ini dirancang untuk menghubungkan pemerintah, dunia usaha, pelaku kreatif, akademisi, media, serta mitra teknologi dan pendanaan. Tujuan utamanya bukan menambah birokrasi, melainkan mempercepat sinergi dan orkestrasi kebijakan serta inisiatif yang terpisah. Dalam prosesnya, Kadin akan mengumpulkan masukan dari berbagai asosiasi di bidang budaya dan ekonomi kreatif untuk menyusun peta jalan komite secara menyeluruh.
Dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta potensi kemitraan dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Komunikasi dan Digital sedang dipelajari untuk memperkuat dimensi diplomasi dan ekosistem digital dalam pengembangan soft power. Di sisi lain, Shinta Kamdani, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan, menekankan perlunya pendekatan sirkular dalam pengembangan industri budaya—bukan lagi sektoral, tetapi saling mendukung. Ia mencontohkan keberhasilan Korea Selatan melalui Hallyu, Jepang dengan Cool Japan, dan China melalui kepercayaan budaya sebagai model yang dapat ditiru.
Dengan Nusantara Rising, Kadin menegaskan bahwa kunci keberhasilan bukan hanya pada pelestarian budaya, tetapi pada kemampuan mengubahnya menjadi produk global yang kompetitif. Melalui kolaborasi yang terstruktur, Indonesia berharap dapat menempatkan budayanya sebagai alat pengaruh yang seimbang dengan kekuatan ekonomi dan diplomasi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


