Pakistan Tolak Sanksi Sepihak AS terhadap Iran
Pakistan menegaskan penolakan terhadap sanksi ekonomi sepihak AS terhadap Iran, menekankan komitmen pada hukum internasional dan diplomasi sebagai solusi konflik.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Pakistan secara tegas menolak mengikuti kebijakan sanksi ekonomi sepihak yang diumumkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri negara itu menegaskan bahwa langkah tersebut bertentangan dengan prinsip hukum internasional dan tidak diakui oleh Islamabad. Pernyataan ini disampaikan dalam pernyataan resmi yang dikutip dari media Iran, menegaskan bahwa hubungan bilateral dengan Iran tetap berjalan sesuai kerangka hukum global.
Dalam pernyataannya, pejabat tersebut menyoroti bahwa sanksi ekonomi tidak menyelesaikan konflik, melainkan memperburuk ketegangan. Ia menekankan bahwa persoalan antara AS dan Iran harus diselesaikan melalui dialog dan diplomasi, bukan melalui tekanan ekonomi. Pakistan menilai bahwa pendekatan semacam itu justru mengancam stabilitas regional dan mengganggu aliran perdagangan global yang telah terjalin secara stabil.
Pemerintah Pakistan juga menekankan peran sebagai mediator dalam konflik antara dua negara tersebut. Sebelumnya, negara ini berhasil menfasilitasi gencatan senjata dan membantu penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk menstabilkan hubungan. Upaya diplomasi ini menjadi bukti bahwa solusi konflik bisa dicapai tanpa mengorbankan prinsip kebebasan ekonomi dan kedaulatan negara.
Pernyataan ini muncul menyusul ancaman Presiden AS yang menyebutkan operasi ekonomi paling dahsyat dalam sejarah, yang akan menargetkan negara-negara yang dianggap membantu Iran. Ancaman tersebut termasuk sanksi terhadap lembaga keuangan, bisnis, bandara, dan entitas pemerintah yang berinteraksi dengan Teheran. Namun, Pakistan tetap berkomitmen untuk tidak terlibat dalam kebijakan yang dianggap melanggar norma internasional.
Konflik antara AS dan Iran terus berlanjut hingga bulan keenam tanpa adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi. Meskipun sempat ada gencatan senjata dan kesepakatan MoU, ketegangan tetap tinggi. Pakistan menekankan bahwa isolasi dan tekanan ekonomi bukan solusi, melainkan faktor pemicu ketegangan baru. Negara ini menyerukan kembali pendekatan damai dan dialog sebagai satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Harga Bensin AS Tembus Rp72,7 Juta per Galon Akibat Ketegangan AS-Iran
Lonjakan harga bensin di AS mencapai Rp72,7 juta per galon menjelang Labor Day, dipicu serangan militer terhadap Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.
8 September 2026

JLR Siap PHK 4.000 Karyawan Akibat Tekanan Persaingan Global
Jaguar Land Rover mengumumkan pemangkasan 4.000 posisi kerja sebagai respons terhadap tekanan kompetitif dari mobil China dan ketidakpastian pasar global.
8 September 2026

Pesawat Kargo Melampaui Batas Landasan, Tewaskan Lima Orang di Miami
Kecelakaan pesawat kargo Amazon Prime Air 7598 di Bandara Internasional Miami menewaskan lima orang dan melukai lima lainnya, termasuk tiga dalam kondisi kritis, setelah melampaui batas landasan pacu saat mendarat.
7 September 2026

AS Perbarui Imbauan Keamanan untuk Wisatawan ke Brasil
Pemerintah AS memperbarui rekomendasi perjalanan ke Brasil dengan penekanan pada risiko kejahatan berkekerasan dan penculikan kilat di kawasan perkotaan.
7 September 2026
Berita Lainnya

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Rabu, 9 September 2026, 07.45 WITA

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Rabu, 9 September 2026, 07.44 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

PAG Disejajarkan Singapura sebagai Pusat LNG Asia
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Bandara Soekarno-Hatta dan Lokasi Lain Segera Beroperasi Kembali
Rabu, 9 September 2026, 07.37 WITA

Indonesia Pionir B50, Eropa dan Jepang Pelajari Skema Suksesnya
Rabu, 9 September 2026, 07.36 WITA


