Pameran Sejarah Tibet 1987–1989 Tampilkan Kekerasan dan Perlawanan Rakyat
Pameran di Dharamshala menggambarkan peristiwa kelam di Lhasa 1987–1989 melalui dokumentasi visual, kesaksian saksi mata, dan bukti kekerasan militer yang menimpa rakyat Tibet.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 09.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pameran sementara yang dibuka di Museum Tibet, Dharamshala, pada 14 September 2026, menjadi ajang refleksi kolektif atas peristiwa kritis dalam sejarah rakyat Tibet. Acara peresmian dilakukan dengan upacara menyalakan lampu minyak dan pemotongan pita, menandai dimulainya ruang pameran yang dirancang khusus untuk merekam memori kolektif dari masa-masa penuh ketegangan. Hadir dalam acara tersebut, Sikyong Penpa Tsering selaku pemimpin otonom Tibet di pengasingan, bersama mantan tahanan politik, saksi mata asing, dan warga Tibet yang menyaksikan langsung gelombang protes dan represi yang terjadi.
Pameran menghadirkan suasana Kota Lhasa pada 1987, saat para biksu dari Biara Drepung dan Sera turun ke jalan dengan membawa bendera Tibet dan menolak kebijakan otoriter dari Beijing. Berdasarkan data dari mantan pejabat China yang melarikan diri, aksi protes tersebut menyebar hingga lebih dari 150 gelombang di lebih dari 40 lokasi di wilayah Tibet. Eskalasi ini menandai puncak konflik antara masyarakat dan otoritas, yang direspons dengan tindakan kekerasan militer yang semakin intensif.
Dua wisatawan Amerika Serikat, Dr. Blake Kerr dan John Ackerly, menjadi saksi langsung atas kekejaman yang terjadi. Ackerly sempat ditangkap karena stiker bendera Tibet ditemukan di tas kameranya, sementara Kerr menyaksikan kekejaman ekstrem: tahanan dengan tangan terikat hingga tulang patah, pemotongan lidah sebelum eksekusi, serta penggunaan truk pengeras suara untuk menyebarkan propaganda setelah Dalai Lama mengumumkan Lima Poin Rencana Perdamaian pada September 1987. Puncak kekerasan terjadi pada 1 Oktober, saat para biksu Sera berdemonstrasi di sekitar Candi Jokhang dengan seruan "Tibet Merdeka, Tiongkok Keluar dari Tibet."
Kerr menggambarkan kebrutalan aparat: tembakan dari atap bangunan, pemukulan massal, dan tragedi seorang ayah yang menggendong anaknya berusia 10 tahun yang tewas akibat tembakan di dada. Dengan kamera, mereka merekam aksi biksu membawa bendera, penembakan dari posisi tinggi, serta penggerebekan rumah warga yang merusak permukiman. Dokumentasi juga mengungkap praktik aborsi dan sterilisasi paksa terhadap perempuan Tibet, berdasarkan pengalaman seorang saksi bernama Rinchen. Perlawanan bahkan berlanjut di dalam penjara, di mana hukuman diperpanjang karena aktivitas protes tetap berlangsung di balik jeruji.
Setelah melarikan diri dari Tibet, Kerr dan Ackerly menyampaikan seluruh bukti foto dan kesaksian langsung kepada Dalai Lama di Dharamshala. Dalam pidatonya, Sikyong Penpa Tsering menekankan konteks historis perlawanan Tibet, mulai dari invasi militer Tiongkok pada 1950-an, penandatanganan Perjanjian 17 Poin di bawah paksaan, hingga penghancuran budaya. Ia menyebut "Petisi 70.000 Kata" oleh Panchen Lama ke-10 sebagai kritik internal terdalam terhadap kebijakan Partai Komunis China. Pameran ini diharapkan menjadi alat edukasi penting bagi generasi muda Tibet dan pengunjung internasional, untuk memahami perjuangan, keberanian, serta skala kekerasan yang dihadapi demi mempertahankan identitas dan kebebasan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Gugatan Ijazah Gibran Di MK: Soal Konstitusi, Bukan Hanya Persyaratan Pendidikan
Gugatan di MK soal ijazah Gibran menyoroti dugaan pasal selundupan dalam PKPU Pilpres 2024, bukan sekadar keabsahan dokumen pendidikan.
25 September 2026

11 Kapolda Lulusan Akpol 1994 Sama Angkatan dengan Wakapolda Metro Jaya
Sebanyak 11 Kapolda di Indonesia merupakan lulusan Akademi Kepolisian 1994, satu angkatan dengan Wakapolda Metro Jaya Irjen Pol Dekananto Eko Purwono.
25 September 2026

BaraJP Minta MK Tolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
BaraJP menegaskan pentingnya menjaga kepastian hukum dan finalitas hasil pemilu dengan meminta MK menolak gugatan terkait ijazah Wapres Gibran.
25 September 2026

Sidang Cerai Sara dan Demian Berpotensi Diputus Verstek
Sidang perdana gugatan cerai Sara Wijayanto terhadap Demian Aditya berpotensi diputus secara verstek akibat ketidakhadiran tergugat tanpa alasan sah.
25 September 2026
Berita Lainnya

Macklemore Gelar Tur Mandiri Dukung Palestina Pasca Didepak dari Tur Ed Sheeran
Jumat, 25 September 2026, 09.29 WITA

Pakistan Tugaskan Jenderal Pensiunan Jadi Sekjen Pertama Pakta Mekkah
Jumat, 25 September 2026, 09.12 WITA

Presiden Suriah Goda Trump dengan New Jersey dalam Pembicaraan Golan
Jumat, 25 September 2026, 09.12 WITA

Jepang Kuatkan Rantai Pasok Pertanian dengan Teknologi dan Koperasi
Jumat, 25 September 2026, 09.09 WITA

DPR Minta Basarnas Lanjutkan Pencarian Jurnalis dan ABK Hilang
Jumat, 25 September 2026, 09.05 WITA

AS Perpanjang Ketergantungan pada China untuk Mineral Langka
Jumat, 25 September 2026, 09.05 WITA

Paus Sperma Betina Terdampar di Ternate Ditangani Tim KKP
Jumat, 25 September 2026, 09.04 WITA

PDIP Usulkan Ambang Batas 6 Persen dan Pemilu Terpisah
Jumat, 25 September 2026, 09.03 WITA

