PDIP Usulkan Ambang Batas 6 Persen dan Pemilu Terpisah
PDIP mengusulkan kenaikan ambang batas parlemen menjadi 6 persen dan pemisahan Pileg dengan Pilpres untuk meningkatkan efektivitas sistem demokrasi dan kembali menekankan peran legislatif.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 09.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Fraksi PDIP di Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan peningkatan ambang batas parlemen menjadi 6 persen dalam rangka pembahasan RUU Pemilu yang akan diproses di Komisi II. Usulan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya menyederhanakan struktur partai politik di parlemen serta memperkuat kualitas representasi legislatif. Menurut Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, angka 6 persen dipandang paling sesuai dengan konteks kebhinekaan dan dinamika politik nasional yang kini berkembang.
Ia menegaskan bahwa pengalaman dari setiap pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa ambang batas 6 persen memberikan keseimbangan antara inklusivitas dan efisiensi. "Dari berbagai pengalaman pemilu, 6 persen menjadi titik ideal untuk memastikan partai yang masuk parlemen memiliki kapasitas dan kredibilitas yang memadai," ujarnya dalam pernyataan di kompleks parlemen. Usulan ini akan diserahkan secara resmi oleh PDIP setelah proses pembahasan RUU Pemilu dimulai secara formal bersama pemerintah.
Selain soal ambang batas, PDIP juga mendukung gagasan pemisahan pemilihan anggota legislatif (Pileg) dari pemilihan presiden (Pilpres). Said menyoroti dominasi perhatian publik terhadap Pilpres yang menyebabkan Pileg terkesan terabaikan dalam pemilu serentak. Ia menekankan bahwa tidak ada bukti efek coattail — atau pengaruh langsung dari kemenangan calon presiden terhadap perolehan suara partai atau caleg — yang signifikan dalam praktik nyata.
"Rakyat fokus pada Pilpres, bukan pada Pileg. Padahal, peran legislatif justru lebih menentukan kebijakan jangka panjang. Karena itu, pemisahan perlu dipertimbangkan agar masyarakat tidak memilih wakilnya secara asal, tanpa memahami rekam jejak calon," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kader partai yang maju sebagai caleg sering kali kehabisan energi karena harus mengampanyekan kandidat presiden, sehingga kampanye legislatif terabaikan.
Gagasan pemisahan pemilu juga didukung oleh Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, yang menekankan pentingnya menyelenggarakan Pileg, Pilpres, dan Pilkada secara terpisah. Ia menilai bahwa pemilu serentak telah mengaburkan fokus publik terhadap pentingnya peran legislatif. "Pemilu harus dirancang agar setiap jenis pemilihan mendapatkan perhatian yang layak, bukan tenggelam dalam dinamika presiden," kata Doli.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Paus Sperma Betina Terdampar di Ternate Ditangani Tim KKP
Paus sperma betina berukuran 9,8 meter yang terdampar di Pantai Afe-Taduma, Ternate, ditangani KKP bersama pemda dan masyarakat, lalu dikuburkan sesuai prosedur.
25 September 2026
Menko Yusril Buka Akses Media Pantau Fasilitas Lapas Cibinong
Menteri Koordinator Hukum dan HAM mempersilakan media memverifikasi langsung klaim fasilitas mewah di Lapas Cibinong pasca-sidak Ombudsman.
25 September 2026

PDIP Tanggapi Elektabilitas Tertinggal dari Gerindra
PDIP menanggapi hasil survei yang menempatkan Gerindra unggul jauh di posisi teratas, dengan tetap menekankan konsistensi perjuangan dan kehadiran di masyarakat.
25 September 2026

Pengembangan Produksi Rokok Elektrik Dalam Negeri Dipercepat
Perusahaan berencana alih teknologi dan tingkatkan produksi perangkat rokok elektrik di dalam negeri demi kurangi ketergantungan impor dan tingkatkan kapasitas lokal.
25 September 2026
Berita Lainnya

Macklemore Gelar Tur Mandiri Dukung Palestina Pasca Didepak dari Tur Ed Sheeran
Jumat, 25 September 2026, 09.29 WITA

Pakistan Tugaskan Jenderal Pensiunan Jadi Sekjen Pertama Pakta Mekkah
Jumat, 25 September 2026, 09.12 WITA

Presiden Suriah Goda Trump dengan New Jersey dalam Pembicaraan Golan
Jumat, 25 September 2026, 09.12 WITA

Jepang Kuatkan Rantai Pasok Pertanian dengan Teknologi dan Koperasi
Jumat, 25 September 2026, 09.09 WITA

Pameran Sejarah Tibet 1987–1989 Tampilkan Kekerasan dan Perlawanan Rakyat
Jumat, 25 September 2026, 09.08 WITA

Gugatan Ijazah Gibran Di MK: Soal Konstitusi, Bukan Hanya Persyaratan Pendidikan
Jumat, 25 September 2026, 09.06 WITA

11 Kapolda Lulusan Akpol 1994 Sama Angkatan dengan Wakapolda Metro Jaya
Jumat, 25 September 2026, 09.06 WITA

BaraJP Minta MK Tolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
Jumat, 25 September 2026, 09.06 WITA

