Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pasar Global Tertekan, Minyak dan Suku Bunga Jadi Pemicu

Pasar keuangan Asia dan global turun akibat lonjakan harga minyak dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS serta Jepang, di tengah ketegangan geopolitik di Teluk.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 14 September 2026, 11.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pasar Global Tertekan, Minyak dan Suku Bunga Jadi Pemicu📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar saham Asia menunjukkan tekanan signifikan pada awal pekan ini, dengan indeks utama di Jepang dan Korea Selatan mengalami penurunan tajam. Penurunan tercatat masing-masing sebesar 1,7% dan 3,3%, sementara indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,8%. Penyebab utamanya adalah kenaikan harga minyak yang menggambarkan risiko gangguan pasokan energi global, terutama setelah serangan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi dan kapal di wilayah Teluk.

Harga minyak Brent melonjak hampir 3% dalam sehari, mencapai US$107,36 per barel, sementara minyak WTI AS naik 2,4% menjadi US$102,48 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan yang memburuk di kawasan Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, di mana kelompok Houthi dari Yaman memperluas aksi serangan terhadap infrastruktur energi. Pertemuan antara Iran dan negara-negara Arab Teluk di Oman yang seharusnya membahas akses Selat Hormuz juga ditunda, menambah ketidakpastian atas kelancaran perdagangan global.

Di tengah tekanan pasar, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS dan Bank of Japan menjadi faktor dominan. Pasar memperkirakan peluang 86% The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Rabu, dengan kemungkinan kenaikan lanjutan di Desember. Michael Feroli, ekonom utama AS dari JPMorgan, menyatakan bahwa kebijakan moneter yang konsisten akan penting untuk menjaga kredibilitas bank sentral, meskipun kemungkinan besar kenaikan ini hanya merupakan penyesuaian terbatas.

Tekanan juga terlihat di pasar keuangan Eropa dan Amerika Serikat, dengan EUROSTOXX 50 turun 0,5%, DAX melemah 0,4%, dan kontrak berjangka S&P 500 turun 0,5%. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sedikit turun ke 4,97%, setelah mengalami kenaikan besar dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, pasar valuta asing menunjukkan pergerakan stabil, dengan dolar AS berada di level 153,49 yen, menjauh dari puncak Juli sebelumnya.

Goldman Sachs mempertahankan optimisme terhadap pasar saham AS, menekankan bahwa meski saham cenderung tertekan saat siklus kenaikan suku bunga dimulai, historis menunjukkan return positif dalam 12 bulan setelah kenaikan pertama. Di sisi lain, harga emas turun 0,3% menjadi US$4.336 per troy ounce, tercermin dari menurunnya daya tarik aset tanpa imbal hasil dalam lingkungan imbal hasil obligasi yang naik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya