Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemilik KPR Tawarkan Pengalihan Gratis Akibat Tekanan Keuangan

Pemilik rumah di Bekasi menawarkan take over KPR secara gratis setelah menghabiskan lebih dari Rp200 juta cicilan, akibat bisnis bangkrut dan tekanan pasar properti yang ketat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 22.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pemilik KPR Tawarkan Pengalihan Gratis Akibat Tekanan Keuangan
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang pemilik rumah di Kabupaten Bekasi, yang menggunakan nama samaran Banana, memutuskan melepas KPR miliknya tanpa meminta imbalan, meski telah membayar cicilan selama bertahun-tahun hingga menumpuk di angka lebih dari Rp200 juta. Keputusan ini diambil setelah bisnis yang dijalankannya mengalami kebangkrutan dua tahun lalu, menyebabkan pendapatan tak stabil dan menimbulkan beban keuangan yang sulit ditanggung. Ia menyadari bahwa melanjutkan pembayaran akan menggerus tabungan yang menjadi satu-satunya sumber keuangan darurat.

Alasan utama pengalihan KPR secara gratis adalah kondisi pasar yang sangat kompetitif di kawasan tempat tinggalnya. Banyak unit serupa yang ditawarkan untuk dijual atau disewa, sehingga rumah milik Banana kesulitan menarik minat pembeli meski telah dipasarkan selama dua tahun. Dengan permintaan yang rendah dan harga jual yang tidak kompetitif, ia menilai menjual rumah dengan harga normal tidak akan menguntungkan, sementara terus membayar cicilan hanya akan memperparah kondisi keuangan.

Keputusan mengalihkan kewajiban KPR tanpa biaya dilakukan setelah pertimbangan matang terhadap risiko keuangan jangka panjang. Banana menyadari bahwa jika tetap melanjutkan cicilan, tabungan akan habis, dan risiko gagal bayar dapat merusak riwayat kredit. Dengan take over gratis, ia berharap dapat menghindari penurunan kredit dan membebaskan diri dari beban yang tak mampu ditanggung. Ia menilai bahwa opsi ini lebih realistis dibandingkan menunggu pembeli atau terus menguras tabungan.

Situasi ini mencerminkan dampak kenaikan suku bunga floating terhadap daya beli konsumen, terutama di segmen menengah ke bawah. Ketika cicilan meningkat drastis, banyak debitur memilih mengalihkan kewajiban ke pihak lain, bahkan tanpa imbalan, sebagai upaya menghindari kerugian lebih besar. Namun, proses take over tetap memerlukan perhitungan akurat, termasuk biaya tambahan seperti penalty, asuransi, appraisal, dan akad hukum, yang bisa menurunkan keuntungan yang tampak dari harga murah.

Pemilik KPR yang memilih take over gratis menunjukkan ketidakmampuan finansial yang melampaui kapasitas penahanan cicilan, terutama di tengah stagnasi pasar properti residensial. Kondisi ini menekankan pentingnya evaluasi awal terhadap kemampuan bayar dan ketahanan ekonomi sebelum mengambil KPR, serta perlunya kebijakan dan edukasi yang lebih kuat bagi masyarakat agar tidak terjebak dalam overkredit akibat perubahan ekonomi yang tak terduga.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya