Minggu, 20 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Peningkatan Rekening Dolar AS Didorong Stabilitas Ekspor dan Kebijakan Baru

Peningkatan signifikan jumlah rekening dolar AS pada Mei 2026 dipengaruhi oleh kebijakan Devisa Hasil Ekspor dan dinamika nilai tukar rupiah, menunjukkan pergeseran preferensi simpanan di kalangan pelaku ekspor.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 20 September 2026, 17.47 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Peningkatan Rekening Dolar AS Didorong Stabilitas Ekspor dan Kebijakan Baru📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan jumlah rekening dalam mata uang dolar Amerika Serikat mencatat lonjakan tajam hingga 58,2% secara tahunan pada Mei 2026, menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Jumlah tersebut mencapai hampir 8,9 juta rekening, meskipun masih menempati posisi kecil dalam total keseluruhan rekening simpanan masyarakat, yakni sebesar 1,3%. Perkembangan ini terjadi seiring dengan kecenderungan menahan aset dalam valuta asing, terutama di kalangan pelaku ekspor yang menempatkan hasil devisa di bank-bank milik negara.

Sementara itu, pertumbuhan rekening rupiah hanya sebesar 8,4% pada periode yang sama, dengan total mencapai 673 juta rekening atau 98,7% dari total keseluruhan. Meski nominal simpanan rupiah tetap dominan dengan angka Rp8,6 triliun—naik 12,4% yoy—pertumbuhan nominal valas jauh lebih tinggi, mencapai 18,7% dan mencapai Rp1.714,76 triliun, menyumbang 16,6% dari total simpanan masyarakat. Hal ini menunjukkan pergeseran preferensi aset ke valuta asing, terutama di kalangan penabung dengan nilai simpanan di atas Rp5 miliar.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menegaskan bahwa kenaikan jumlah rekening dolar bukan disebabkan oleh implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang baru berlaku mulai 1 Juni 2026. Ia menyebut bahwa penempatan dana dari ekspor baru akan terjadi secara signifikan mulai bulan September, sehingga lonjakan saat ini lebih didorong oleh faktor jangka panjang dan kepercayaan terhadap stabilitas dolar. “Yang naik itu kelas atas, jumlahnya memang tidak banyak, tapi trennya jelas meningkat,” ujarnya.

Pernyataan serupa disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional, Hery Gunardi, yang juga Direktur Utama BRI. Ia menilai bahwa pertumbuhan rekening dolar sejalan dengan rencana pemerintah untuk mengalihkan hasil ekspor ke bank Himbara melalui DHE. “Pasti akan meningkat jika hasil ekspor kembali masuk ke sistem perbankan, terutama melalui institusi milik negara,” tegasnya. Meskipun kebijakan baru belum berdampak penuh, tren peningkatan simpanan valas telah terbentuk sebelumnya, didukung oleh ketidakpastian nilai tukar rupiah.

Pada akhir pekan lalu, rupiah sempat menguat tipis di posisi Rp17.730 per dolar AS, meski masih melemah 0,82% sepanjang pekan. Data Refinitiv mencatat penurunan harian sebesar 0,03%, yang menunjukkan tekanan terhadap nilai tukar lokal. Dengan kondisi ini, kebijakan pengelolaan devisa dan preferensi simpanan dalam dolar tetap menjadi faktor kunci dalam dinamika pasar keuangan nasional, terutama dalam menjaga stabilitas ekonomi makro.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya