Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perempuan Dominasi Investasi Surat Berharga Negara Ritel

Data Kementerian Keuangan menunjukkan perempuan mendominasi investor ritel surat berharga negara, dengan porsi mencapai lebih dari 57% pada berbagai seri hingga 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 15.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Perempuan Dominasi Investasi Surat Berharga Negara Ritel
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Komposisi investor ritel surat berharga negara (SBN) di Indonesia menunjukkan dominasi perempuan dalam setiap seri penerbitan, baik dalam bentuk surat utang negara (SUN) maupun surat berharga syariah negara (SBSN). Pada seri ORI027 tahun 2025, dari total 86.624 investor, sebanyak 58% berasal dari kalangan perempuan, sementara sisanya 42% adalah laki-laki. Data serupa juga terpantau pada seri ORI028 dengan 58,44% perempuan dari total 38.355 investor, serta seri SBR014 yang mencatat 58% perempuan dari 51.198 pemegang saham.

Tren ini terus berlanjut hingga awal 2026. Seri ORI029 dengan 42.612 investor menunjukkan 57,86% perempuan, sementara ORI030 yang memiliki 102.546 investor juga didominasi oleh perempuan dengan porsi 57,75%. Pada sisi SBSN ritel, seri ST014 tahun 2025 mencatat 57,43% perempuan dari total 84.175 investor, dan seri ST016 2026 menunjukkan 58,74% perempuan dari 81.667 investor.

Secara generasi, mayoritas investor SBN ritel berasal dari kalangan milenial, dengan kontribusi 45,9% pada seri ORI027, disusul Gen X (31,5%), Baby Boomer (17,1%), Gen Z (4,5%), dan generasi tradisional hanya 1%. Komposisi ini konsisten pada berbagai seri lain, menunjukkan bahwa generasi muda, terutama perempuan, menjadi aktor utama dalam pasar SBN ritel.

Penerbitan SBN ritel secara nasional terus meningkat, dengan total nilai penerbitan SUN ritel mencapai Rp67,78 triliun hingga 2025, dan mencapai Rp54,44 triliun pada periode Januari hingga Agustus 2026. Sementara itu, penerbitan SBSN ritel pada 2025 mencapai Rp84,93 triliun, dan hingga Agustus 2026 sebesar Rp40,11 triliun. Kenaikan jumlah investor perempuan mencerminkan peningkatan partisipasi perempuan dalam instrumen keuangan negara.

Pola ini menegaskan bahwa kebijakan pemerintah dalam memperluas akses investasi publik telah efektif menjangkau kalangan perempuan, terutama generasi muda. Dengan dominasi perempuan dalam investasi SBN ritel, pemerintah melihat potensi besar dalam memperkuat basis pembiayaan negara melalui partisipasi publik yang inklusif dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya