Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Perlindungan Anak dari Abu Vulkanik, IDAI Beri Panduan Jelas

IDAI menyampaikan langkah konkret bagi orang tua untuk melindungi anak dari dampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Perlindungan Anak dari Abu Vulkanik, IDAI Beri Panduan Jelas
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan serangkaian rekomendasi strategis untuk mengurangi paparan abu vulkanik terhadap anak, terutama di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Dokter spesialis anak yang menangani masalah pernapasan, dr. Wahyuni Indawati, menekankan pentingnya tindakan pencegahan sebelum gejala muncul, bukan menunggu hingga anak menunjukkan tanda-tanda sakit. Ia menegaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat memicu gangguan pada sistem pernapasan, mulai dari iritasi ringan hingga kondisi serius seperti sesak napas.

Rekomendasi pertama dari IDAI adalah meminimalkan paparan langsung dengan memindahkan anak ke area yang aman jika memungkinkan. Jika tidak, anak harus tetap berada di dalam rumah, terutama saat indeks pencemaran udara (ISPU) melampaui angka 100. Pintu dan jendela harus tertutup rapat, serta sistem pendingin ruangan tidak boleh beroperasi dalam mode ventilasi luar. Penggunaan kipas angin dan AC dalam mode udara segar juga dihindari karena dapat menggerakkan partikel abu yang sudah mengendap.

Upaya pembersihan area harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak melibatkan anak. Sebaiknya gunakan kain basah atau semprotan air terlebih dahulu agar abu tidak terbang kembali. Hindari menyapu kering, karena justru menyebarluaskan partikel berbahaya. Saat harus keluar rumah, anak di atas dua tahun disarankan memakai masker khusus anak dengan penutup yang rapat, dilengkapi kacamata pelindung untuk menghindari iritasi mata.

Perlindungan terhadap kulit juga menjadi fokus, dengan menyarankan pakaian tertutup yang menutupi seluruh tubuh. Di dalam rumah, penting untuk menjauhkan anak dari sumber polusi tambahan seperti asap rokok dan asap dapur yang dapat memperparah gangguan pernapasan. Anak dengan kondisi khusus seperti asma atau alergi perlu dipantau lebih ketat, serta dipastikan obat rutin tersedia dan konsumsi air minum cukup untuk mencegah dehidrasi.

IDAI juga menekankan pentingnya deteksi dini gejala bahaya. Orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul sesak napas, napas yang lebih cepat dari biasa, tarikan dinding dada saat bernapas, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen menurut pengukuran oksimeter. Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk menjaga kesehatan anak secara optimal dalam kondisi darurat lingkungan akibat aktivitas vulkanik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya