Prabowo Soroti Perdagangan sebagai Alat Politik Global
Presiden Prabowo menekankan perdagangan sebagai instrumen kekuasaan negara adidaya dalam forum ekonomi Rusia, sekaligus menegaskan kebijakan luar negeri bebas-aktif Indonesia.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 00.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 6x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggarisbawahi pentingnya menghadapi transformasi sistem perdagangan global yang kini sering dimanfaatkan sebagai alat pengaruh oleh negara-negara besar. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sesi pidato di Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang berlangsung di Vladivostok, Rusia, pada Kamis, 3 September. Ia menyoroti bagaimana praktik perdagangan kini kerap digunakan sebagai bentuk kekuatan geopolitik, menimbulkan ketegangan dan ketidakpastian di berbagai kawasan.
Prabowo menyampaikan bahwa kondisi dunia saat ini ditandai dengan ketegangan dalam rantai pasok global dan pembagian sistem keuangan dunia yang semakin terfragmentasi secara geografis. Dalam konteks ini, ia menekankan perlunya kerja sama yang berbasis prinsip keadilan, kemandirian, dan kemitraan strategis tanpa memihak. Ia menilai bahwa solusi konkret harus muncul dari forum-forum multilateral yang mewakili berbagai kepentingan global.
Menyikapi hal tersebut, Presiden menegaskan kembali prinsip kebijakan luar negeri Indonesia yang berlandaskan bebas aktif. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dalam aliansi militer, tetapi terbuka untuk kolaborasi ekonomi dengan berbagai negara, baik dari Timur maupun Barat. Ia menilai bahwa kerja sama ekonomi yang berkelanjutan menjadi fondasi utama untuk membangun stabilitas dan kesejahteraan bersama.
Salah satu bukti konkret kebijakan tersebut, kata Prabowo, adalah kesepakatan kerja sama perdagangan bebas (Free Trade Agreement) yang telah dibangun dengan Uni Ekonomi Eurasia. Menurutnya, kesepakatan ini bukan bentuk aliansi militer atau tandingan terhadap pihak lain, melainkan komitmen bersama untuk memperkuat kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan. Indonesia, kata dia, berupaya menjadikan dirinya mitra yang setara dan berdaulat di berbagai kawasan, baik di utara, selatan, timur, maupun barat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Kanye West Tutup Konser GBK dengan Runaway Emosional
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

