Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Prabowo Soroti Perdagangan sebagai Alat Politik Global

Presiden Prabowo menekankan perdagangan sebagai instrumen kekuasaan negara adidaya dalam forum ekonomi Rusia, sekaligus menegaskan kebijakan luar negeri bebas-aktif Indonesia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 00.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Prabowo Soroti Perdagangan sebagai Alat Politik Global
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggarisbawahi pentingnya menghadapi transformasi sistem perdagangan global yang kini sering dimanfaatkan sebagai alat pengaruh oleh negara-negara besar. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sesi pidato di Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang berlangsung di Vladivostok, Rusia, pada Kamis, 3 September. Ia menyoroti bagaimana praktik perdagangan kini kerap digunakan sebagai bentuk kekuatan geopolitik, menimbulkan ketegangan dan ketidakpastian di berbagai kawasan.

Prabowo menyampaikan bahwa kondisi dunia saat ini ditandai dengan ketegangan dalam rantai pasok global dan pembagian sistem keuangan dunia yang semakin terfragmentasi secara geografis. Dalam konteks ini, ia menekankan perlunya kerja sama yang berbasis prinsip keadilan, kemandirian, dan kemitraan strategis tanpa memihak. Ia menilai bahwa solusi konkret harus muncul dari forum-forum multilateral yang mewakili berbagai kepentingan global.

Menyikapi hal tersebut, Presiden menegaskan kembali prinsip kebijakan luar negeri Indonesia yang berlandaskan bebas aktif. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dalam aliansi militer, tetapi terbuka untuk kolaborasi ekonomi dengan berbagai negara, baik dari Timur maupun Barat. Ia menilai bahwa kerja sama ekonomi yang berkelanjutan menjadi fondasi utama untuk membangun stabilitas dan kesejahteraan bersama.

Salah satu bukti konkret kebijakan tersebut, kata Prabowo, adalah kesepakatan kerja sama perdagangan bebas (Free Trade Agreement) yang telah dibangun dengan Uni Ekonomi Eurasia. Menurutnya, kesepakatan ini bukan bentuk aliansi militer atau tandingan terhadap pihak lain, melainkan komitmen bersama untuk memperkuat kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan. Indonesia, kata dia, berupaya menjadikan dirinya mitra yang setara dan berdaulat di berbagai kawasan, baik di utara, selatan, timur, maupun barat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya