Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Profesor Israel Didakwa Rencanakan Pemindahan Paksa Ratusan Warga Arab

Seorang profesor matematika dari Universitas Bar-Ilan dituntut atas dugaan merancang operasi pemindahan paksa dan pembunuhan massal terhadap warga Arab di Israel dan wilayah pendudukan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 12.11 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Profesor Israel Didakwa Rencanakan Pemindahan Paksa Ratusan Warga Arab📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seorang profesor matematika berusia sekitar 60 tahun dari Universitas Bar-Ilan didakwa oleh jaksa Israel atas rencana yang disebutkan sebagai operasi teroristik dengan tujuan memaksa ratusan warga Arab mengungsi ke Yordania, Lebanon, dan Jalur Gaza. Ia dituduh merancang serangan terorganisir selama hampir tiga tahun, termasuk mempersiapkan strategi pembunuhan massal yang melibatkan 72 penyerang bersenjata. Rencana ini disebut menargetkan wilayah-wilayah padat penduduk Arab, termasuk kota-kota di Tepi Barat dan Israel utara.

Menurut penyelidikan, profesor tersebut menyusun dokumen rinci setebal 20 halaman yang mencakup detail serangan, jalur akses, serta strategi pengungkapan informasi. Ia diduga mengumpulkan data foto udara dari Tuba-Zangariyye pada Maret 2023 dan melakukan survei lapangan untuk menentukan lokasi serangan. Dokumen-dokumen tersebut disimpan di rumah dan kantor pribadinya di kampus. Serangan direncanakan dilakukan secara simultan di berbagai titik oleh 12 kelompok, masing-masing terdiri dari enam orang, menggunakan senjata api dan kapak.

Dalam proses rekrutmen, profesor itu mencari dukungan dari kalangan militer dan menyasar tokoh politik penting, termasuk mantan anggota parlemen Partai Likud, Moshe Feiglin. Ia bahkan mencoba memeras Feiglin agar bergabung, namun upaya tersebut gagal karena tidak ada respons. Ia juga berusaha menyembunyikan rencananya dengan memanfaatkan acara kampanye pemilu 2026 sebagai sarana penyebaran informasi secara terselubung. Putrinya menolak permintaan untuk merekrut kelompok pemuda ekstremis di Tepi Barat, yang disebut sebagai "pemuda puncak bukit".

Rencana tersebut diberi nama "Ayit", kata Ibrani yang berarti "elang", dan digunakan sebagai akronim untuk menyamarkan tujuan pemindahan paksa warga Palestina. Serangan direncanakan menewaskan sekitar 600 hingga 700 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Tujuan utamanya adalah menciptakan kekacauan yang mendorong warga Arab meninggalkan wilayah Israel dan Tepi Barat. Serangan akan disiarkan langsung melalui media sosial untuk memperluas dampak psikologis dan menarik partisipasi dari militer, polisi, serta warga Israel lainnya.

Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Israel telah menyerahkan dakwaan ke Pengadilan Distrik Lod dan meminta agar terdakwa tetap ditahan hingga proses hukum selesai. Universitas Bar-Ilan menyatakan kaget atas dakwaan tersebut dan langsung menangguhkan jabatan profesor tersebut hingga putusan akhir. Warga Arab Israel, yang mencakup sekitar 21 persen dari total populasi lebih dari 10 juta jiwa di Israel, kini mengawasi perkembangan kasus ini dengan ketat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya