Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Putin: Rusia Siap Berdialog untuk Hentikan Perang Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan negaranya terbuka untuk perundingan guna mengakhiri konflik dengan Ukraina, menekankan komitmen pada perdamaian berkelanjutan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 04.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Putin: Rusia Siap Berdialog untuk Hentikan Perang Ukraina
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa Moskow memiliki keinginan kuat untuk menghentikan konflik bersenjata dengan Ukraina dan siap menjalani proses negosiasi. Pernyataan ini disampaikan dalam sesi jumpa pers setelah menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Bishkek, Kirgistan, pada Rabu (2/9). Ia menekankan bahwa perdamaian yang adil dan stabil merupakan prioritas bagi Rusia dalam konteks regional dan Eropa secara keseluruhan.

Putin menegaskan bahwa Rusia tidak menolak dialog, asalkan pihak lawan bersedia duduk berunding secara substantif. Ia menekankan bahwa proses perundingan harus dilakukan tanpa syarat kondisional, dengan mempertimbangkan kepentingan bersama dan keamanan jangka panjang kawasan. Pernyataan ini menunjukkan sikap terbuka Moskow terhadap mekanisme diplomasi, meskipun sebelumnya sempat menolak beberapa inisiatif perdamaian.

Dalam kesempatan yang sama, Putin menyatakan bahwa Rusia menilai perang sebagai tragedi yang harus berakhir melalui jalan damai. Ia menekankan bahwa negaranya tidak mencari pemenang atau keunggulan militer semata, melainkan tujuan yang lebih luas: stabilitas dan keamanan kolektif di kawasan Eropa Timur. Pernyataan ini diperkuat dengan penekanan pada pentingnya dialog multilateral sebagai solusi utama.

Kebijakan diplomasi Rusia, menurut Putin, tetap terbuka terhadap semua pihak yang menunjukkan niat baik. Ia menegaskan bahwa tidak ada batasan dalam pilihan mitra negosiasi, selama tujuannya adalah mengakhiri konflik dan membangun fondasi perdamaian yang berkelanjutan. Pernyataan ini menjadi indikasi bahwa Moskow tetap menganggap diplomasi sebagai jalan utama, meskipun konflik berlangsung sejak 2022.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya