Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Putra Netanyahu Picu Kontroversi di Inggris soal Falkland

Pernyataan Yair Netanyahu tentang Kepulauan Falkland sebagai milik Argentina memicu reaksi tajam di Inggris, khususnya dari tokoh sayap kanan yang menekankan historis hubungan strategis dengan Israel.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 22.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Putra Netanyahu Picu Kontroversi di Inggris soal Falkland
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Putra perdana menteri Israel, Yair Netanyahu, menimbulkan ketegangan diplomatik dengan menyatakan bahwa Kepulauan Falkland berada di bawah yurisdiksi Argentina. Pernyataan ini disampaikan melalui media sosial saat dirinya mendukung Presiden Argentina Javier Milei, menimbulkan kecaman dari kalangan politik dan publik Inggris. Kepulauan yang terletak sekitar 13.000 kilometer dari Israel tersebut telah lama menjadi sengketa antara Inggris dan Argentina sejak konflik 1982.

Komentar Yair Netanyahu langsung memicu perdebatan luas di media sosial, khususnya di kalangan tokoh publik Inggris yang dikenal solid dalam mendukung Israel. Salah satunya adalah Alex Armstrong, komentator politik dan penyiar ternama, yang menyoroti ketidakpekaan pernyataan tersebut terhadap sejarah dan kepentingan strategis Inggris. Ia menekankan bahwa hubungan antara kedua negara telah berlangsung selama beberapa generasi, termasuk dalam kerangka bantuan militer dan koordinasi kebijakan luar negeri.

Armstrong menilai bahwa pernyataan tersebut tidak hanya melecehkan posisi Inggris secara historis, tetapi juga membahayakan solidaritas yang telah terbangun dalam lingkaran politik sayap kanan di negara tersebut. Ia menegaskan bahwa Argentina sebelumnya pernah membandingkan kondisi Falkland dengan Gaza, sebuah perbandingan yang dianggap provokatif dan tidak relevan oleh pihak Inggris. Menurutnya, sikap seperti itu justru bisa mengikis dukungan publik yang selama ini mendukung Israel.

Ia juga menekankan bahwa pergantian pemerintahan di Inggris tidak serta-merta mengubah sikap umum masyarakat terhadap Israel, terlebih dalam konteks kepentingan nasional dan keamanan. “Pemerintahan bisa berubah, tetapi komitmen terhadap sekutu strategis seperti Israel tidak boleh dipertanyakan sembarangan,” tegasnya. Ia memperingatkan bahwa komentar semacam ini hanya akan menimbulkan ketegangan dan mengaburkan narasi yang telah dibangun secara stabil dalam hubungan bilateral.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya