Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ratusan Penumpang Terlantar Akibat Penutupan Bandara Soekarno-Hatta

Puluhan ratus penumpang terdampar di bandara setelah 209 penerbangan dibatalkan akibat abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau yang mengganggu operasional Soekarno-Hatta.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 19.31 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ratusan Penumpang Terlantar Akibat Penutupan Bandara Soekarno-Hatta
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Puluhan ratus penumpang terjebak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu (6/9/2026) setelah operasional penerbangan dihentikan secara mendadak. Penutupan dilakukan menyusul deteksi abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan kekhawatiran atas keselamatan penerbangan. Sejumlah penumpang bahkan terpaksa menginap di area check-in karena tidak bisa menyelesaikan perjalanan mereka.

Kementerian Perhubungan mengonfirmasi bahwa 209 penerbangan, termasuk sejumlah rute internasional, terdampak akibat keputusan penutupan sementara. Keputusan ini diambil setelah otoritas penerbangan mengidentifikasi risiko tinggi akibat abu vulkanik yang menyebabkan gangguan pada mesin pesawat. Penutupan awal dilakukan pada pagi hari dan kemudian diperpanjang melalui penerbitan NOTAM A3346/26.

Operasional bandara ditunda hingga pukul 13.30 WIB, menggantikan NOTAM sebelumnya (A3344/26), menyusul kondisi atmosfer yang belum memungkinkan penerbangan aman. Kondisi ini menimbulkan keluhan dari penumpang yang mengaku tidak diberi informasi lebih awal. Ersy Laksita Rini, seorang penumpang berusia 55 tahun, menyatakan kekecewaan karena hanya mengetahui pembatalan setelah tiba di bandara. Ia menilai, komunikasi yang buruk memperparah ketidaknyamanan perjalanan.

Badan pengelola penerbangan, AirNav Indonesia, menyatakan bahwa penutupan sementara diperlukan untuk mencegah insiden keselamatan. Pemantauan terus dilakukan untuk menilai kondisi abu di kawasan udara. Meski penutupan diperpanjang, otoritas menegaskan bahwa keputusan tersebut bersifat sementara dan akan dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan aktivitas vulkanik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya