Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rumah Sultan Langkat Dijarah Saat Revolusi Sosial 1946

Puncak kemewahan Kesultanan Langkat berakhir saat istana dijadikan sasaran aksi jarah warga pada 1946, menyusul ketegangan sosial akibat kesenjangan ekonomi dan perlawanan terhadap kekuasaan tradisional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 22.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rumah Sultan Langkat Dijarah Saat Revolusi Sosial 1946
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada tahun 1946, Istana Darussalam yang menjadi tempat tinggal Sultan Mahmud dari Kesultanan Langkat, salah satu kerajaan paling kaya di Sumatra Timur, menjadi sasaran amuk massa. Bangunan megah yang sebelumnya menjadi simbol kekuasaan dan kemewahan kini porak-poranda akibat aksi jarah yang dilakukan warga. Sejumlah anggota keluarga bangsawan ditangkap, dan beberapa mengalami kekerasan fisik, mencerminkan eskalasi konflik sosial pasca-kemerdekaan.

Kekayaan Langkat berasal dari sumber daya alam yang melimpah, terutama setelah minyak bumi ditemukan di Telaga Said, Pangkalan Brandan, pada masa kakek Sultan Mahmud, Sultan Musa. Kehadiran perusahaan minyak Belanda, Royal Dutch Petroleum, pada awal abad ke-20 mempercepat eksploitasi dan pengembangan infrastruktur, menjadikan wilayah tersebut pusat pengolahan minyak terbesar di Sumatra. Hasilnya, kesultanan mendapatkan pendapatan signifikan dari royalti, mencapai sekitar US$3.000 per tahun pada masa Sultan Mahmud.

Kemewahan keluarga kesultanan tidak hanya terlihat dari aset fisik, tetapi juga dalam gaya hidup yang meniru budaya kolonial. Pada masa Sultan Aziz (1897–1927), Langkat telah membangun istana megah dan membeli kapal tanker. Di era Sultan Mahmud, gaya hidup semakin modern dengan kepemilikan 13 mobil limosin dan dua kapal pesiar. Kebiasaan makan, pakaian, serta budaya sehari-hari menunjukkan pengaruh kuat terhadap kehidupan Belanda.

Kesenjangan sosial yang melebar antara keluarga kesultanan dan rakyat yang mayoritas hidup dalam keterbatasan menjadi pemicu utama konflik. Sejarawan Anthony Reid mencatat bahwa pada 1931, pendapatan pribadi Sultan Mahmud dari royalti minyak mencapai 472.094 gulden—jauh melampaui pendapatan Sultan Deli dan Serdang yang hanya sekitar sepertiganya. Kemewahan ini dilihat sebagai simbol ketidakadilan, yang kemudian meledak dalam Revolusi Sosial 1946.

Aksi jarah terhadap harta benda keluarga kesultanan menjadi ekspresi perlawanan terhadap sistem tradisional yang dianggap menindas. Kejatuhan Kesultanan Langkat tidak hanya ditandai dengan kerusakan fisik istana, tetapi juga berakhir dengan kematian Sultan Mahmud pada 1948. Sejak itu, kejayaan kesultanan yang pernah menjadi simbol kekayaan dan kekuasaan di Nusantara perlahan sirna, meninggalkan warisan sejarah tentang konflik antara kemewahan dan kesenjangan sosial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya