Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah di Awal Pekan Akibat Tegangan Geopolitik dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Rupiah melemah menjadi Rp17.774 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, dipengaruhi eskalasi konflik AS-Iran dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 11.45 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah di Awal Pekan Akibat Tegangan Geopolitik dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan pada awal perdagangan Rabu, mencapai level Rp17.774 per dolar AS, melemah 30 poin atau 0,17 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.744. Pergerakan ini tercermin dari tekanan global yang muncul akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan AS terhadap acara pernikahan di wilayah Iran dikabarkan menewaskan empat orang dan melukai 50 lainnya, menambah eskalasi ketegangan regional yang berdampak pada sentimen pasar keuangan global.

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.750 hingga Rp17.820 dalam perdagangan hari ini. Pemicu utama melemahnya rupiah adalah lonjakan harga minyak dunia yang terus berlanjut akibat ketegangan geopolitik, serta kenaikan ekspektasi inflasi di AS yang mendorong antisipasi pengetatan kebijakan moneter oleh The Federal Reserve (The Fed). Data terkini menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS pada bulan September telah naik menjadi 66 persen, meningkat dari 35 persen sebelumnya, dengan perkiraan kenaikan sebesar 25 basis points menuju level 4 persen.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari tren domestik. Surplus neraca perdagangan yang menurun secara bertahap mulai memberi tekanan pada nilai tukar. Pada periode Januari-Juli 2026, surplus perdagangan barang Indonesia tercatat sebesar 3,70 miliar dolar AS, menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Di sisi lain, inflasi bulanan (month-to-month) pada Agustus 2026 mencatat angka 0,21 persen, yang dianggap masih tinggi dan memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan harga dalam jangka pendek. Permintaan dolar AS yang meningkat untuk pemenuhan impor juga turut berkontribusi terhadap pelemahan rupiah.

Dengan kombinasi faktor eksternal dan internal, pergerakan rupiah diproyeksikan tetap rentan terhadap volatilitas, terutama jika tensi geopolitik terus memburuk atau kebijakan moneter AS lebih agresif dari perkiraan. Stabilitas nilai tukar akan sangat bergantung pada respons kebijakan dalam negeri, termasuk pengendalian inflasi dan kebijakan valuta asing yang komprehensif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya