Rupiah Melemah di Awal Pekan, Tekanan dari Dolar AS Meningkat
Rupiah dibuka melemah ke level Rp17.725 per dolar AS, dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan kenaikan nilai indeks dolar global.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 10.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi pada awal perdagangan Senin (31/8/2026), bergerak ke posisi Rp17.725 per dolar AS, menandai awal pekan yang berada dalam zona merah. Pergerakan ini mencatat pelemahan sebesar 0,23% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya, yang sempat menunjukkan penguatan 0,17% ke level Rp17.685. Penurunan ini terjadi seiring dengan kenaikan tekanan terhadap mata uang lokal, terutama menyusul kenaikan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai 99,624 pada pukul 09.00 WIB.
Kenaikan DXY terjadi setelah pelemahan pada akhir pekan lalu, yang disusul lonjakan sebesar 0,55% pada penutupan Jumat (28/8/2026). Pemicu utama kenaikan tersebut berasal dari pernyataan Ketua The Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam pidato di simposium Jackson Hole. Warsh menegaskan bahwa The Fed masih memiliki tugas yang belum selesai jika inflasi tidak kembali ke target 2%, membuka kemungkinan kenaikan suku bunga dalam rapat September.
Pernyataan tersebut langsung memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS, yang meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Akibatnya, aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia terhambat, menambah tekanan terhadap rupiah. Dolar AS juga mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan terakhir, dengan DXY sempat menyentuh level tertinggi sejak 17 Agustus 2026, yaitu 99,727.
Di dalam negeri, pasar menantikan Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026) yang akan menentukan calon pimpinan Bank Indonesia periode 2026–2031. Destry Damayanti diproyeksikan menjadi calon Gubernur BI, sementara Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro ditetapkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur BI. Keputusan ini dinilai krusial untuk menjaga konsistensi kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Enam Gunung Api Meletus Bersamaan, Pakar Sebut Bukan Tanda Keterkaitan
Erupsi bersamaan enam gunung api di berbagai wilayah Indonesia disebabkan oleh pertemuan siklus aktivitas alami, bukan keterkaitan sistem magma.
9 September 2026

Indonesia Belum Siap Jadi Negara Maju Menurut Analisis Terbaru
Probabilitas Indonesia menjadi negara maju masih di bawah ambang batas, tertinggal dari Thailand dan Vietnam berdasarkan metode analisis kinerja ekonomi struktural.
9 September 2026

Bank Sentral Global Perkuat Cadangan Emas di Tengah Ketegangan Geopolitik
Peningkatan belanja emas oleh bank sentral dunia mencatat rekor hingga Juli 2026, didorong kebutuhan diversifikasi cadangan dan stabilitas dalam era ketegangan global.
9 September 2026

LPS Dorong Literasi Keuangan Melalui Festival di Lampung
LPS sukses gelar Lampung Financial Festival 2026 dengan 6.800 pengunjung, fokus pada penguatan pemahaman keuangan generasi muda.
9 September 2026
Berita Lainnya

Thailand Perpendek Masa Bebas Visa Jadi 30 Hari Mulai 2026
Rabu, 9 September 2026, 15.45 WITA

Larangan Bungkus Makanan Sarapan di Hotel, Ini Alasannya
Rabu, 9 September 2026, 15.44 WITA

Google Maps Bantu Lacak Lokasi Orang Terdekat Secara Real-Time
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Demonstran Serang Anggota Parlemen, Proyek Resor Kushner Jadi Sorotan
Rabu, 9 September 2026, 15.36 WITA

Kapal Filipina Ditangkap di Sulawesi, 25 Rumpon Ilegal Dibongkar
Rabu, 9 September 2026, 15.35 WITA

BUK Migas Siap Jadi Pemimpin Utama Sektor Hulu
Rabu, 9 September 2026, 15.35 WITA

RUU Migas Dipercepat, BUK Jadi Fokus Utama
Rabu, 9 September 2026, 15.35 WITA

Produksi Motor Listrik Nasional Siap Capai 100 Ribu Unit Tahun Depan
Rabu, 9 September 2026, 15.34 WITA


