Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.710, Tekanan dari Kenaikan Suku Bunga AS

Rupiah ditutup melemah 0,14% ke level Rp17.710 per dolar AS, terdampak ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan greenback sepanjang pekan lalu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 23.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.710, Tekanan dari Kenaikan Suku Bunga AS
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan Senin (31/8/2026) dengan pelemahan sebesar 0,14% terhadap dolar AS, menetapkan posisi akhir di Rp17.710 per dolar. Penurunan ini terjadi meski tekanan terhadap mata uang domestik sedikit mereda menjelang penutupan pasar. Pada sesi perdagangan, rupiah sempat menyentuh level terlemahnya di Rp17.755 sebelum memperbaiki posisi hingga akhirnya menutup di angka 25 poin lebih lemah dibandingkan penutupan Jumat (28/8) di Rp17.685.

Pelemahan rupiah berlangsung meski secara teknis lebih kuat dibandingkan posisi pembukaan pagi hari yang berada di Rp17.725. Penyebab utama koreksi berasal dari penguatan dolar AS pada akhir pekan sebelumnya, yang terjadi setelah Ketua The Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pernyataan yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga dalam rapat September. Pernyataan tersebut meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS, yang berdampak pada meningkatnya daya tarik aset berdenominasi dolar.

Data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan September melonjak dari 35% menjadi 57,5% setelah pidato Warsh di simposium Jackson Hole. Penguatan dolar AS juga terlihat dari indeks dolar AS (DXY) yang sempat mencapai 99,727, posisi tertinggi sejak 17 Agustus 2026, sebelum kembali melemah 0,16% ke level 99,550 pada penutupan perdagangan hari ini. Meski demikian, koreksi DXY belum cukup mengangkat rupiah kembali ke zona positif.

Pasar juga memperhatikan agenda penting di lingkungan kebijakan moneter nasional, yaitu Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026) yang akan menentukan calon pimpinan Bank Indonesia periode 2026–2031. Destry Damayanti diproyeksikan menjadi calon Gubernur BI, sementara Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro diusulkan sebagai calon Deputi Gubernur Senior dan Deputi Gubernur BI. Keputusan ini dinilai menentukan arah kebijakan moneter dan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya