Rupiah Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS di Sore Hari
Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.763 per dolar AS pada perdagangan sore hari, mengalami pelemahan 0,11 persen dibandingkan sebelumnya.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga Rp17.763 per dolar AS pada sesi perdagangan Rabu (2/9) sore, menunjukkan penurunan sebesar 19 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan tekanan terhadap mata uang Garuda yang berlangsung di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu. Pergerakan tersebut sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS, menunjukkan tekanan kenaikan terhadap aset berdenominasi dolar di kawasan tersebut.
Di kawasan Asia, sejumlah mata uang utama mengalami tekanan, termasuk ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,07 persen, sementara yen Jepang justru menguat 0,30 persen. Yuan China bergerak stabil, dolar Singapura turun tipis 0,01 persen, sedangkan won Korea Selatan menguat 0,70 persen. Di sisi lain, peso Filipina melemah 0,25 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,02 persen terhadap dolar AS. Tekanan serupa juga terjadi pada mata uang negara maju, dengan euro Eropa turun 0,10 persen, poundsterling Inggris melemah 0,03 persen, dan dolar Australia terdepresiasi 0,11 persen.
Analis pasar keuangan DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dua faktor utama: eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. "Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat hari ini, didorong oleh sentimen risiko tinggi dari konflik regional dan kenaikan imbal hasil obligasi AS yang menarik aliran modal ke aset berdenominasi dolar," ujarnya. Faktor-faktor tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.
Penguatan dolar AS secara global menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang cenderung rentan terhadap fluktuasi pasar global. Pergerakan ini menunjukkan kembali sensitivitas nilai tukar lokal terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi otoritas moneter dan pelaku pasar yang memantau perkembangan selanjutnya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
ASN Tunggak Pajak Kendaraan Siap Dikenai Sanksi TPP
Aparatur Sipil Negara yang belum lunasi pajak kendaraan bermotor bakal menghadapi pemotongan Tunjangan Perbaikan Posisi (TPP) sebagai bentuk teguran dan penguatan kepatuhan fiskal.
9 September 2026

Abu Vulkanik Anak Krakatau Picu Iritasi Kulit, Ini Penjelasannya
Partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menyebabkan iritasi kulit, terutama pada orang dengan kulit sensitif atau barrier yang sudah rusak.
9 September 2026

Dua Masker Lebih Efektif? Ini Penjelasan Dokter Paru
Penggunaan dua masker, terutama tipe bedah, dinilai bisa meningkatkan perlindungan dari abu vulkanik meski belum ada bukti ilmiah pasti.
9 September 2026

Perlindungan Anabul Saat Hujan Abu Vulkanik
Pemilik hewan peliharaan di lima provinsi terdampak harus segera lindungi anabul dari paparan abu vulkanik dengan langkah-langkah praktis dan preventif.
9 September 2026
Berita Lainnya
Pemadaman Listrik Berlanjut di Kendari dan Konawe, Tertunda Hingga Malam Hari
Rabu, 9 September 2026, 11.21 WITA
Kebiasaan Malam Sederhana Tingkatkan Kesehatan Kulit
Rabu, 9 September 2026, 11.21 WITA
Skandal Kuota Haji Rp622 Miliar Terungkap, Saksi Sebut Ada Instruksi Ketik Nama
Rabu, 9 September 2026, 11.21 WITA
Pemkot Kendari Tuntaskan Pembangunan Jembatan Wawo
Rabu, 9 September 2026, 11.20 WITA

KPK Diminta Telusuri Aliran Dana Kasus Tambang di Bombana
Rabu, 9 September 2026, 11.20 WITA

KPK Diminta Usut Tuntas Dugaan Korupsi di Tambang Nikel Kabaena
Rabu, 9 September 2026, 11.20 WITA

Lima Langkah Tangani Paparan Abu Vulkanik Secara Aman
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA

Paparan Abu Vulkanik dan Risiko Silikosis, Ini Penjelasan Ahli
Rabu, 9 September 2026, 07.43 WITA


