Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS di Sore Hari

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.763 per dolar AS pada perdagangan sore hari, mengalami pelemahan 0,11 persen dibandingkan sebelumnya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 17.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah ke Rp17.763 per Dolar AS di Sore Hari
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga Rp17.763 per dolar AS pada sesi perdagangan Rabu (2/9) sore, menunjukkan penurunan sebesar 19 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan tekanan terhadap mata uang Garuda yang berlangsung di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu. Pergerakan tersebut sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS, menunjukkan tekanan kenaikan terhadap aset berdenominasi dolar di kawasan tersebut.

Di kawasan Asia, sejumlah mata uang utama mengalami tekanan, termasuk ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,07 persen, sementara yen Jepang justru menguat 0,30 persen. Yuan China bergerak stabil, dolar Singapura turun tipis 0,01 persen, sedangkan won Korea Selatan menguat 0,70 persen. Di sisi lain, peso Filipina melemah 0,25 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,02 persen terhadap dolar AS. Tekanan serupa juga terjadi pada mata uang negara maju, dengan euro Eropa turun 0,10 persen, poundsterling Inggris melemah 0,03 persen, dan dolar Australia terdepresiasi 0,11 persen.

Analis pasar keuangan DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dua faktor utama: eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi AS. "Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat hari ini, didorong oleh sentimen risiko tinggi dari konflik regional dan kenaikan imbal hasil obligasi AS yang menarik aliran modal ke aset berdenominasi dolar," ujarnya. Faktor-faktor tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.

Penguatan dolar AS secara global menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang cenderung rentan terhadap fluktuasi pasar global. Pergerakan ini menunjukkan kembali sensitivitas nilai tukar lokal terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi otoritas moneter dan pelaku pasar yang memantau perkembangan selanjutnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya