Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.642 Pasca-Sinyal Dovish The Fed

Rupiah ditutup menguat ke Rp17.642 per dolar AS pada Jumat (4/9/2026), didorong sinyal pelonggaran moneter dari The Fed, namun diperkirakan kembali fluktuatif akibat data tenaga kerja AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 17.45 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.642 Pasca-Sinyal Dovish The Fed
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menutup perdagangan hari Jumat (4/9/2026) pada level Rp17.642 per dolar AS, menguat 37 poin dibanding posisi sebelumnya. Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya sempat berada di Rp17.689 dan menunjukkan perbaikan dari level Rp17.636 pada data JISDOR BI. Kenaikan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap pernyataan pejabat The Fed yang menunjukkan sikap lebih terbuka terhadap potensi penahanan suku bunga.

Penguatan rupiah dipengaruhi oleh pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang menyampaikan adanya tanda-tanda disinflasi dalam data ekonomi terkini. Menurut analis ekonomi, Ibrahim Assuaibi, pasar keuangan merespons optimistis terhadap nada melunak (dovish) yang disampaikan Waller, yang membuka kemungkinan mempertahankan suku bunga jika inflasi Agustus terus menurun. Namun, prospek penguatan berkelanjutan tetap tergantung pada rilis data Nonfarm Payrolls yang akan dirilis pekan depan.

Pasangan mata uang dolar AS terhadap rupiah diperkirakan akan mengalami fluktuasi pada awal pekan depan, dengan proyeksi penutupan pada rentang Rp17.640 hingga Rp17.690 per dolar AS. Rentang pergerakan dalam sepekan ke depan diperkirakan berkisar antara Rp17.550 hingga Rp17.850, menunjukkan ketidakpastian yang masih tinggi. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter global dan data ekonomi kunci dari Amerika Serikat.

Meski menguat pada akhir pekan, tekanan terhadap rupiah tetap ada, terutama jika data ketenagakerjaan AS menunjukkan kekuatan lebih dari ekspektasi. Hal ini bisa memicu kenaikan dolar AS dan mempercepat pelemahan rupiah dalam waktu dekat. Pelaku pasar kini fokus pada data ekonomi AS sebagai penentu arah pergerakan kurs dalam beberapa hari ke depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya