Rupiah Menguat di Awal Pekan, Dolar Melemah ke Rp17.610
Rupiah menguat 0,11% ke level Rp17.610 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, didorong pelemahan dolar AS dan ekspektasi rilis cadangan devisa Agustus.
Redaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah bergerak menguat pada awal perdagangan Senin (7/9/2026), mencatatkan apresiasi sebesar 0,11% terhadap dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv, kurs rupiah ditutup di posisi Rp17.610 per dolar AS pada sesi pembukaan. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari penutupan Jumat (4/9/2026), saat mata uang nasional sempat menguat 0,11% ke level Rp17.630, menjadi penutupan terkuat sejak 21 Mei 2026.
Pergerakan ini didukung oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun tipis 0,03% menjadi 99,143 pada pukul 09.00 WIB. Penurunan DXY terjadi setelah sebelumnya menguat 0,27% pada akhir pekan lalu, menandakan kembali terjadinya koreksi terhadap greenback. Pergerakan ini memberikan ruang bagi rupiah untuk memperkuat posisi, terutama dalam konteks ekspektasi data cadangan devisa periode Agustus 2026 yang akan dirilis pukul 10.00 WIB hari ini.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat sebesar US$145,3 miliar, stabil dibandingkan posisi akhir Juni yang mencapai US$145,6 miliar. Angka ini didukung oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan obligasi global pemerintah. Di sisi lain, devisa digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan jika termasuk pembayaran utang, jauh melampaui standar internasional sekitar tiga bulan impor.
Rilis data cadangan devisa Agustus menjadi sorotan pasar, karena memberikan gambaran tentang kesiapan Bank Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal yang tetap tinggi. Kekuatan cadangan devisa yang terjaga mampu menopang kepercayaan terhadap rupiah dan aset keuangan domestik. Sebaliknya, penurunan signifikan dapat mengindikasikan tekanan eksternal yang semakin besar atau penggunaan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Di pasar global, dolar AS kesulitan mempertahankan penguatan meski ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) kembali meningkat. Laporan tenaga kerja AS pekan lalu sempat memperkuat peluang kenaikan suku bunga September menjadi sekitar 57%. Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan lama karena tekanan dari utang pemerintah AS yang terus membengkak dan ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Selain itu, sejumlah bank sentral utama dunia yang juga mempertimbangkan kenaikan suku bunga membatasi melebarnya selisih kebijakan moneter, sehingga mengurangi daya tarik dolar AS.
Perhatian pasar kini beralih ke rilis data inflasi AS yang akan dirilis pada Jumat mendatang. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed akan meningkat, yang dapat mengangkat dolar. Namun, jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, peluang The Fed mempertahankan suku bunga akan membesar, berpotensi menekan dolar dan membuka ruang bagi rupiah untuk lebih menguat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


