Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Stabil di Rp17.630, Cadangan Devisa Naik Jadi US$146,5 Miliar

Rupiah ditutup stagnan di Rp17.630 per dolar AS pada awal pekan, didukung kenaikan cadangan devisa dan pelemahan dolar global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 07.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Stabil di Rp17.630, Cadangan Devisa Naik Jadi US$146,5 Miliar
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah berakhir di posisi Rp17.630 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026), tidak berubah dari penutupan akhir pekan sebelumnya. Meski sempat melemah hingga ke level Rp17.665 dalam sesi perdagangan, mata uang nasional berhasil memangkas kerugian dan menutup hari di angka yang sama. Pergerakan tersebut terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang melemah tipis menjadi 99,088 pada pukul 15.00 WIB, setelah sebelumnya menguat 0,27% pada Jumat.

Kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi faktor penopang utama stabilitas rupiah. Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar, meningkat dari US$145,3 miliar pada akhir Juli. Kenaikan ini didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, meskipun terjadi pembayaran utang luar negeri dan kebijakan stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa kebijakan BI tetap responsif terhadap ketidakpastian pasar global. Ia menyatakan bahwa posisi cadangan devisa saat ini mencukupi untuk membiayai 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar internasional yang disyaratkan tiga bulan. Angka ini menunjukkan ketahanan eksternal yang kuat.

Dari sisi global, dolar AS menghadapi tekanan karena kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS yang terus membengkak dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed meningkat menjadi sekitar 57% pada September, tekanan dari kenaikan suku bunga di negara lain membatasi selisih yang bisa menguntungkan dolar. Data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini menjadi penentu arah pergerakan greenback selanjutnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya