Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Stabil saat Pasokan Valas Melimpah

Keseimbangan supply dan demand valuta asing menjadi kunci stabilitas nilai tukar rupiah, didorong ekspor dan arus modal masuk.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 19.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Rupiah Stabil saat Pasokan Valas Melimpah
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditentukan oleh keseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing di dalam negeri. Deputi Gubernur Bank Indonesia menyampaikan bahwa dinamika nilai tukar bukan hanya soal kekuatan mata uang, tetapi juga ekosistem perdagangan dan keuangan domestik yang saling terkait. Ketika pasokan dolar meningkat, seperti dari hasil ekspor atau investasi asing, rupiah cenderung menguat. Sebaliknya, jika permintaan dolar melonjak—misalnya akibat impor besar atau arus modal keluar—rupiah akan tertekan.

Ekspor menjadi sumber utama pasokan valas, karena setiap pengiriman barang ke luar negeri menghasilkan devisa dalam bentuk dolar AS. Selain itu, masuknya modal asing melalui pembelian surat berharga atau investasi langsung juga menambah pasokan valuta asing. Sebaliknya, impor barang dan jasa dari luar negeri memerlukan pembayaran dalam mata uang asing, sehingga meningkatkan permintaan dolar. Fenomena repatriasi atau penarikan dana oleh investor asing juga turut mendorong kenaikan permintaan terhadap valuta asing.

Tiga faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah kondisi fundamental, struktural, dan sentimen pasar global. Faktor fundamental mencakup neraca perdagangan dan transaksi berjalan, sementara faktor struktural berkaitan dengan pola penggunaan valas oleh pelaku ekonomi domestik dan asing. Di sisi lain, sentimen pasar—seperti ketegangan geopolitik atau fluktuasi harga minyak—dapat memicu lonjakan permintaan dolar secara global, yang berdampak pada tekanan terhadap rupiah.

Rupiah dinyatakan menguat ketika nilai tukarnya turun, misalnya dari Rp17.000 per dolar AS menjadi Rp15.500. Artinya, lebih sedikit rupiah yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar, menunjukkan kenaikan daya beli. Sebaliknya, jika nilai tukar naik, rupiah melemah. Kondisi ini terjadi ketika permintaan dolar meningkat, seperti saat terjadi arus modal keluar atau kenaikan impor. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan valas menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya