Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Saham TINS dan IMPC Unggul, BTPS Rencanakan Buyback Rp1 Triliun

Indeks pasar modal turun 0,47% ke level 6.636, sementara emiten seperti TINS dan IMPC menguat signifikan, diikuti rencana buyback BTPS dan kinerja kuat BULL serta RATU yang siap ekspansi melalui private placement.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Saham TINS dan IMPC Unggul, BTPS Rencanakan Buyback Rp1 Triliun
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah 0,47% pada posisi 6.636,48 pada perdagangan Jumat (4/9), mencerminkan tekanan dari aksi jual asing yang mencapai Rp317,07 miliar di pasar reguler. Di tengah koreksi tersebut, saham NATO, IMPC, dan TINS menunjukkan kinerja positif masing-masing naik 24,63%, 6,76%, dan 8,07%. Sebaliknya, emiten besar seperti BBCA, ASII, dan BMRI mengalami penurunan, dengan masing-masing terkoreksi 1,11%, 2,97%, dan 0,90%. Dari 11 sektor di BEI, delapan sektor berakhir merah, dengan Transportasi dan Logistik menjadi yang paling terdampak, turun 1,09%, sementara Energi menjadi sektor penguat terbesar dengan kenaikan 0,22%.

Pergerakan bursa global juga menunjukkan tren negatif, dengan Dow Jones turun 0,51%, S&P 500 terkoreksi 0,38%, dan Nasdaq melemah 0,29%. Di pasar offshore, ETF EIDO turun 1,20% dan indeks MSCI Indonesia terkoreksi 1%. Kondisi ini diperparah oleh potensi peningkatan kebutuhan masker akibat penyebaran abu vulkanik di Jabodetabek, yang dianggap menjadi katalis bagi emiten seperti MEDS dan OMED yang memiliki eksposur terhadap produk perlindungan diri.

Di sisi korporasi, Bank BTPN Syariah (BTPS) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai maksimal Rp1 triliun, yang berasal sepenuhnya dari ekuitas perseroan. Jumlah saham yang dapat dibeli dibatasi hingga 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Proyeksi laporan keuangan per 30 Juni 2026 menunjukkan penurunan total aset dari Rp23,30 triliun menjadi Rp22,30 triliun dan ekuitas dari Rp10,26 triliun menjadi Rp9,26 triliun. Meski laba tahun berjalan diproyeksikan turun dari Rp655,49 miliar menjadi Rp650,16 miliar, laba per saham (EPS) justru meningkat dari Rp85,09 menjadi Rp94,54. Pelaksanaan buyback akan dilakukan dalam jangka waktu maksimal 12 bulan sejak 14 Oktober 2026, setelah mendapat persetujuan RUPSLB pada 13 Oktober 2026.

Sementara itu, emiten pelayaran Buana Lintas Lautan (BULL) mencatatkan kinerja impresif pada semester I-2026, dengan laba bersih melonjak 739% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, mencapai US$58,41 juta dari US$6,96 juta. Pendapatan meningkat 84% menjadi US$128,73 juta, didorong utama oleh bisnis freight yang naik signifikan dari US$63,10 juta menjadi US$126,32 juta. Margin laba kotor juga melonjak dari 27,5% menjadi 51,3%. BULL saat ini memperkuat bisnis LNG melalui penambahan armada dan menjajaki rights issue untuk pendanaan ekspansi.

Di sisi lain, Raharja Energi Cepu (RATU) berencana melakukan private placement dengan menerbitkan maksimal 271,51 juta saham baru, setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga pelaksanaan ditentukan minimal 90% dari rata-rata harga penutupan selama 25 hari bursa berturut-turut. Dengan asumsi harga Rp6.000 per saham, perseroan berpotensi mengumpulkan dana sekitar Rp1,63 triliun untuk modal kerja dan pengembangan usaha, termasuk pembelian aset, saham, atau pinjaman. Aksi tersebut berpotensi menyebabkan dilusi maksimal 9,09% bagi pemegang saham lama. Rencana ini masih menunggu persetujuan pemegang saham independen dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 8 September 2026, dengan pelaksanaan paling lambat dua tahun setelah pertemuan tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya