Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Santri Sidoarjo Trauma Pasca Keracunan MBG, Pemerintah Siap Pendampingan Psikologis

Menteri PPPA menyatakan sejumlah santri korban keracunan MBG mengalami trauma, dan pemerintah siap berkoordinasi untuk pendampingan psikologis dan pemulihan mental.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 11.47 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Santri Sidoarjo Trauma Pasca Keracunan MBG, Pemerintah Siap Pendampingan Psikologis
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengonfirmasi adanya dampak psikologis pada sejumlah santri yang menjadi korban keracunan akibat konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo. Kunjungan langsung Menteri PPPA ke RSUD RT Notopuro mengonfirmasi kondisi psikologis sebagian anak yang mengalami gangguan pasca kejadian tersebut. Ia menekankan pentingnya pendampingan khusus bagi yang mengalami trauma, sekaligus menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkolaborasi dalam proses pemulihan.

Dalam kunjungan tersebut, hadir pula Wakil Menteri Agama, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), serta perwakilan Kantor Staf Presiden. Mereka bersama-sama meninjau kondisi korban dan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta pengelola ponpes. Arifah menyampaikan bahwa pendampingan trauma healing akan dipertimbangkan, terutama jika pondok pesantren membutuhkan bantuan teknis atau tenaga khusus dalam proses pemulihan mental para santri.

BGN menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun, atas kejadian yang menimpa ratusan anak. Penyebab keracunan diduga akibat pelanggaran prosedur operasional di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin. Sebagai tindak lanjut, operasional dapur tersebut telah dihentikan, dan kepala dapur yang bertanggung jawab telah dicopot dari jabatannya.

Pemerintah menegaskan bahwa standar operasional prosedur (SOP) program MBG telah ada, namun kejadian ini terjadi akibat ketidakpatuhan atau kelalaian dalam pelaksanaan. Penegakan sanksi akan dilakukan sesuai peraturan, dengan fokus pada pihak yang bertanggung jawab langsung, bukan pemilik SPPG. Proses investigasi tetap berjalan untuk menentukan apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian yang mengakibatkan keracunan massal.

Hingga Kamis siang, total korban keracunan MBG mencapai 748 orang, terdiri dari santri Ponpes Manbaul Hikam dan pelajar di 19 sekolah di wilayah Kalitengah, Tanggulangin. Dari jumlah tersebut, 20 orang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara 728 lainnya sudah diperbolehkan pulang dan menjalani pemantauan secara jalan. Program MBG tetap akan dilanjutkan dengan peningkatan pengawasan dan edukasi gizi yang lebih menyentuh selera anak-anak sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya asupan bergizi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya