Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Serial Madu Atau Racun Ditarik Imbas Sensitivitas Keagamaan

Drama Malaysia Madu Atau Racun ditarik sementara dari layanan streaming setelah kontroversi soal unsur LGBTQ+ dan nilai budaya yang dianggap menyinggung kepentingan keagamaan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Serial Madu Atau Racun Ditarik Imbas Sensitivitas Keagamaan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Serial drama Madu Atau Racun yang mulai tayang Agustus 2026 kini tengah menjadi sorotan setelah pihak berwenang Malaysia meminta penayangan dibatasi. Kontroversi muncul dari adegan-adegan yang dianggap menyiratkan tema LGBTQ+ serta dinilai tidak selaras dengan nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Kekhawatiran ini mendorong respons cepat dari pemerintah, termasuk pernyataan tegas dari Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama), Dr. Zulkifli Hasan, yang menolak penayangan konten yang dianggap mengancam akidah generasi muda.

Ketegangan semakin memuncak ketika Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) mengajukan laporan resmi ke Suruhanjaya Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC). Proses peninjauan pun melibatkan berbagai lembaga, termasuk Lembaga Penapisan Filem (LPF) dan Communications and Multimedia Content Forum of Malaysia (CMCF), untuk menilai kesesuaian konten dengan pedoman yang berlaku. Sejalan dengan itu, iQIYI sebagai platform penayangan mengambil langkah menyunting ulang dan menarik sementara enam episode dari total 12 episode yang telah dirilis di Malaysia.

Penayangan sisa enam episode pun ditunda hingga proses penyuntingan dan evaluasi selesai. Meski belum ada jadwal pasti kapan drama ini akan kembali tayang, serial tersebut masih dapat diakses melalui layanan iQIYI di Indonesia. Langkah ini menunjukkan keberpihakan terhadap kepentingan publik dan kerentanan terhadap isu sensitif, khususnya dalam konteks keberagaman nilai dan norma sosial.

MIG Production House selaku rumah produksi menyampaikan permintaan maaf secara resmi. Perusahaan mengakui adanya adegan yang dianggap berlebihan dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian penonton. Mereka menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menyinggung agama atau budaya, namun mengakui kesalahan dalam penyampaian narasi yang kurang mempertimbangkan konteks sosial yang kompleks. MIG menyatakan akan memperbaiki pendekatan kreatif dalam produksi mendatang berdasarkan masukan dari masyarakat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya