Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Spanyol Tuduh Israel dan Rusia Sebarkan Hoaks soal Krisis Migran Ceuta

Perdana Menteri Spanyol menegaskan adanya kampanye disinformasi dari Israel dan Rusia terkait gelombang migran ke Ceuta, didukung data EEAS dan diperparah oleh kelompok ultra-kanan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 04.53 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Spanyol Tuduh Israel dan Rusia Sebarkan Hoaks soal Krisis Migran Ceuta
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez secara tegas mengungkapkan adanya upaya sistematis menyebarkan informasi palsu terkait krisis migran yang melanda Ceuta pada akhir Juli lalu. Menurutnya, sejak 30 dan 31 Juli, berbagai hoaks yang dikaitkan dengan Rusia dan Israel mulai menyebar luas di media sosial. Temuan ini berdasarkan analisis dari European External Action Service (EEAS), badan diplomatik Uni Eropa, yang memantau aktivitas digital lintas negara.

Sanchez menyoroti bahwa disinformasi tersebut sengaja dibuat untuk memanipulasi opini publik dan menyerang Spanyol serta Eropa secara kolektif. Ia menyebut kelompok-kelompok politik ekstrem kanan internasional turut memanfaatkan isu migrasi sebagai alat untuk memecah belah solidaritas antarnegara Eropa. Menurutnya, motif di balik aksi ini terkait ketegangan geopolitik, terutama terkait posisi Spanyol yang mendukung kemerdekaan Palestina serta mendukung Ukraina dalam konflik dengan Rusia.

Ketika lebih dari 70 ribu warga Maroko menyeberang ke Ceuta—sebagian melalui renang—kota kantong Spanyol di Afrika Utara itu menjadi pusat perhatian dunia. Banyak dari mereka berharap bisa mendapatkan perlindungan dan tempat tinggal di Eropa. Namun, pada saat yang sama, berbagai narasi palsu mulai tersebar daring, termasuk klaim bahwa migran yang masuk dari laut tidak bisa dideportasi kembali ke Maroko. Pernyataan itu secara tegas dibantah oleh pemerintah Spanyol sebagai informasi keliru yang dapat memperkeruh situasi.

Sampai saat ini, pemerintah setempat mencatat sekitar 3.500 hingga 7.000 migran masih berada di wilayah Ceuta, sementara politisi lokal memperkirakan jumlahnya mencapai 10 ribu, termasuk anak-anak yang tidak memiliki pendamping. Warga setempat telah menggelar demonstrasi rutin memprotes dampak sosial dan keamanan yang ditimbulkan. Sanchez menegaskan bahwa investigasi masih berlangsung untuk mengungkap pelaku dan sumber penyebaran disinformasi tersebut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya