Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Suriah Pertimbangkan Kirim Pasukan ke Yaman Dukung Saudi

Suriah menimbang kirim hingga 20.000 tentara ke Yaman untuk mendukung operasi militer Saudi melawan Houthi, dengan AS tidak menolak rencana tersebut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Suriah Pertimbangkan Kirim Pasukan ke Yaman Dukung Saudi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Suriah sedang menelaah kemungkinan mengirim pasukan militer hingga 20.000 orang ke Yaman sebagai bagian dari upaya memperkuat koalisi yang dipimpin Arab Saudi. Langkah ini disebut sebagai bagian dari pembicaraan strategis antara Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dalam pertemuan di Riyadh. Tujuannya adalah menopang pasukan pemerintah Yaman yang dinilai kurang terlatih dibanding kelompok Houthi, yang didukung Iran.

Pertimbangan keterlibatan militer Suriah disebut telah mendapat sinyal positif dari Washington, yang memandang rencana tersebut sebagai cara untuk memperkuat operasi tanpa melibatkan langsung pasukan AS. Komando Pusat AS (CENTCOM) telah dimintai masukan terkait kemungkinan pengerahan pasukan dari Damaskus. Meskipun demikian, rencana ini masih dalam tahap diskusi dan belum diputuskan secara final.

Kemungkinan keterlibatan kelompok militer Islamis, termasuk petempur dari Hayat Tahrir al-Sham (HTS), turut menjadi perhatian. Mereka yang sebelumnya bertempur melawan rezim Assad kini dipertimbangkan untuk dikerahkan, menimbulkan kekhawatiran atas eskalasi konflik sektarian. Houthi, yang beragama Syiah Zaydi, berpotensi menjadi target dari pasukan dengan latar belakang Sunni yang lebih radikal, yang bisa memperparah ketegangan regional.

Konflik di Yaman kembali memanas sejak September, ketika Houthi merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah, mengancam jalur pelayaran internasional melalui Selat Bab el-Mandeb. Koalisi Saudi melaporkan telah mengerahkan 100 jet tempur dan menghancurkan 324 sasaran militer Houthi. Sebagai respons, kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Saudi, termasuk ke bandara Riyadh dan Abha, memperlihatkan eskalasi ancaman militer yang terus berlanjut.

Meskipun ada laporan bahwa Riyadh telah meminta pengerahan pasukan Suriah, penasihat kepresidenan Suriah Ahmad Zaidan menegaskan bahwa informasi tersebut tidak akurat. Di sisi lain, Suriah juga mempertimbangkan bentuk bantuan militer lain, termasuk dukungan pertahanan atau partisipasi dalam operasi di Yaman. Konflik Yaman, yang bermula sejak pengambilalihan Sanaa oleh Houthi pada 2014 dan diikuti intervensi militer Saudi pada 2015, kembali memburuk setelah gencatan senjata pada 2022. Kini, berbagai kekuatan regional termasuk Turki dan Pakistan juga ikut mendukung Saudi melalui perjanjian pertahanan kolektif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya