Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Swasembada Pangan Dideklarasikan 2026, Tantangan Lanjutan Terus Dipantau

Pemerintahan Prabowo-Gibran mempercepat swasembada pangan melalui reformasi pupuk, rehabilitasi irigasi, dan peningkatan produksi, dengan target pencapaian pada Januari 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 18.00 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 87x dibuka
Swasembada Pangan Dideklarasikan 2026, Tantangan Lanjutan Terus Dipantau📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam dua tahun masa kepemimpinannya, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengakselerasi agenda swasembada pangan dengan mengintegrasikan kebijakan dari hulu hingga hilir. Langkah strategis mencakup penataan ulang distribusi pupuk bersubsidi, revitalisasi jaringan irigasi, penerapan teknologi pertanian modern, serta peningkatan kapasitas penyerapan hasil panen oleh BULOG. Upaya ini diambil untuk mengurangi ketergantungan impor, yang pada 2023 mencapai 3,06 juta ton dan meningkat menjadi 4,52 juta ton pada 2024.

Target swasembada pangan yang awalnya direncanakan dalam empat tahun kini dipercepat menjadi satu tahun, dengan deklarasi resmi di Karawang, Jawa Barat, pada 7 Januari 2026. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hasil kerja satu institusi, melainkan hasil sinergi antara petani, penyuluh, pemerintah daerah, kementerian, lembaga negara, TNI, Polri, dan BUMN pangan. Fokus utama adalah memastikan seluruh ekosistem pertanian bergerak sejalan: meningkatkan produksi, melindungi petani, dan menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Pembenahan tata kelola pupuk bersubsidi menjadi fondasi utama. Pemerintah menerbitkan Perpres Nomor 6 dan 113 Tahun 2025 untuk mempercepat akses dan menurunkan harga. Mulai 22 Oktober 2025, harga pupuk urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, sementara pupuk NPK dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram. Alokasi pupuk bersubsidi untuk 2026 ditetapkan sebesar 9,55 juta ton, menjangkau lebih dari 16 juta petani, sebagai bentuk dukungan terhadap sarana produksi yang terjangkau.

Di bidang infrastruktur, rehabilitasi irigasi telah mencapai 280.880 hektare dengan realisasi 99,93 persen. Untuk menghadapi tantangan iklim, pemerintah menyiapkan pompanisasi di 2,2 juta hektare dan melanjutkan rehabilitasi irigasi sekitar 1 juta hektare pada 2026. Potensi irigasi dari 61 bendungan diperkirakan mencapai 400 ribu hektare. Di sisi teknologi, penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) dan distribusi benih unggul berpotensi hasil minimal 8 ton per hektare telah dilakukan, sejalan dengan penguatan alat mesin pertanian dan pendampingan teknis.

Produksi pangan nasional menunjukkan tren positif. Berdasarkan data BPS, produksi beras 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibanding 2024. Produksi padi gabah kering giling mencapai 60,21 juta ton dari luas panen 11,32 juta hektare. Pada periode Januari-Agustus 2026, produksi beras sudah mencapai 25,29 juta ton. Produksi jagung juga meningkat menjadi 16,16 juta ton pada 2025, naik 6,74 persen dari tahun sebelumnya. Penyerapan oleh BULOG hingga 8 Oktober 2026 mencapai 4,115 juta ton setara beras, atau 102,88 persen dari target penugasan 4 juta ton, yang menjadi penopang Cadangan Beras Pemerintah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya