Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Truk Listrik Bisa Hemat Subsidi Solar Rp161 T, Tantangan Infrastruktur Jadi Fokus

Pemerintah berpotensi menghemat subsidi solar hingga Rp161 triliun jika sektor logistik beralih ke truk listrik, sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 12.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Truk Listrik Bisa Hemat Subsidi Solar Rp161 T, Tantangan Infrastruktur Jadi Fokus📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Transisi dari truk bahan bakar fosil ke truk listrik diproyeksikan mampu mengurangi beban subsidi solar hingga Rp161 triliun dalam jangka panjang. Proyeksi ini disampaikan oleh Urban Mobility Manager dari WRI Indonesia dalam forum diskusi bertajuk Indonesia International Sustainability Forum 2026 di Jakarta. Ia menekankan bahwa tren konsumsi solar yang terus meningkat memperbesar tekanan terhadap anggaran subsidi dan ketergantungan impor, sehingga perlu solusi alternatif yang berkelanjutan.

Penerapan kebijakan B50—campuran 50 persen biodiesel sawit dan 50 persen solar fosil—diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp157,28 triliun melalui pengurangan impor bahan bakar fosil. Kebijakan ini mulai berlaku secara nasional sejak 1 Juli 2026, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257, yang menetapkan B50 sebagai standar penyaluran di seluruh SPBU. Namun, pemerintah menilai bahwa efisiensi jangka panjang akan lebih besar jika sektor logistik beralih sepenuhnya ke energi listrik.

Kendala utama yang dihadapi dalam transisi ini adalah ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan tingginya biaya awal truk listrik. Pelaku industri logistik menyebut keandalan kendaraan serta jangkauan operasional menjadi pertimbangan krusial. Selain itu, ketersediaan stasiun pengisian listrik yang memadai—baik permanen maupun sementara—diperlukan untuk mendukung operasional truk listrik secara efektif.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah dan mitra strategis sedang menguji coba green freight corridor, koridor khusus truk listrik yang dibangun melalui lima pilar utama. Lima pilar tersebut mencakup tata kelola yang terintegrasi, pelaksanaan uji coba proyek berbasis permintaan, pembangunan infrastruktur pengisian energi, sinergi antar pemangku kepentingan yang dipimpin Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur, serta evaluasi berkelanjutan terhadap kebijakan yang diterapkan. Tujuannya adalah menciptakan kerangka uji coba yang dapat mengidentifikasi hambatan dan solusi sebelum penerapan skala besar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya