Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Dihadapkan Krisis Kepercayaan Publik Terdalam

Popularitas Trump anjlok ke level terendah sepanjang karier politik, didorong ketidakpuasan terhadap kebijakan perang Iran dan ekonomi, dengan hanya 33% warga AS setuju terhadap kinerjanya.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 16.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Trump Dihadapkan Krisis Kepercayaan Publik Terdalam📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Survei terbaru yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden AS Donald Trump mencapai titik terendah dalam sejarah karier politiknya. Hasil jajak pendapat yang berakhir pada Senin, 1 September 2026, mengungkapkan bahwa hanya 33% warga Amerika yang menyetujui kinerja Trump di Gedung Putih, angka yang lebih rendah dibandingkan titik terendah masa jabatan Joe Biden pada Oktober 2024. Kondisi ini menandai penurunan signifikan dari level 47% yang pernah dicapai pada awal masa jabatan saat ini.

Faktor utama anjloknya popularitas Trump adalah ketidakpuasan publik terhadap pengelolaan krisis internasional, khususnya konflik dengan Iran. Sejak AS mulai melakukan serangan udara ke Iran pada Februari 2026, harga bahan bakar melonjak tajam, memperburuk tekanan inflasi yang sudah menghantui masyarakat. Hanya 36% warga yang mendukung kebijakan militer tersebut, sementara 71% menyatakan tidak setuju dengan cara Trump menangani persoalan biaya hidup, termasuk empat dari sepuluh anggota Partai Republik.

Ketegangan geopolitik yang kembali memuncak dalam beberapa hari terakhir—dengan saling serangan rudal antara AS dan Iran—semakin memperkuat sentimen negatif terhadap kebijakan luar negeri Trump. Iran telah memblokir jalur perdagangan minyak global secara signifikan sejak awal konflik, memperburuk ketegangan ekonomi global. Di tengah krisis ini, Partai Demokrat menunjukkan keunggulan dalam persepsi ekonomi, dengan 46% pendukungnya menyatakan antusias menghadapi pemilu sela 3 November, jauh melampaui 31% pendukung Republik.

Survei yang berlangsung selama empat hari ini memiliki margin kesalahan sebesar 3 poin persentase. Hasilnya menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi pemilih independen, di mana 36% memilih Demokrat dibandingkan 22% yang memilih Republik. Perubahan ini mengindikasikan potensi ancaman besar bagi Partai Republik dalam pemilihan Kongres mendatang, yang harus mempertahankan keunggulan tipis di tengah krisis kepercayaan publik yang semakin dalam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya