Trump Pertimbangkan Nuklir Jika Iran Tak Tunduk
Mantan penasihat antiterorisme AS menyatakan ancaman penggunaan senjata nuklir terhadap Iran makin realistis jika upaya konvensional gagal, menyusul kegagalan strategi militer dan ekonomi AS.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 23.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Amerika Serikat dikabarkan sedang menimbang opsi penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap ketahanan Iran, setelah seluruh upaya diplomasi dan tekanan militer konvensional dianggap tidak efektif. Pernyataan ini disampaikan oleh mantan penasihat keamanan nasional presiden AS, Joe Kent, dalam wawancara dengan podcaster terkemuka, yang menekankan bahwa dalam skenario tertentu, penggunaan senjata pemusnah massal tidak lagi dianggap tabu. Ia menyatakan bahwa jika pemerintahan saat ini terus bersikeras menggulingkan kepemimpinan Teheran, pilihan terbatas hanya dua: operasi darat besar-besaran atau serangan nuklir.
Kent menyoroti bahwa kegagalan dalam mencapai tujuan militer di medan perang, termasuk gagal merusak infrastruktur kunci Iran, telah mendorong pertimbangan ekstrem. Ia menilai bahwa operasi darat tidak layak diterapkan mengingat kompleksitas geografi dan kepadatan penduduk di Iran. Dalam konteks itu, serangan nuklir terbatas—khususnya terhadap fasilitas pengayaan uranium bawah tanah yang tersebar di wilayah pegunungan—dipandang sebagai alternatif yang mungkin dipertimbangkan secara strategis.
Ancaman ini muncul setelah AS menangguhkan serangan militer terbarunya terhadap Iran, yang disebut sebagai respons atas keterbatasan amunisi presisi dan rudal pertahanan. Meski Pentagon membantah kehabisan stok senjata, keputusan penghentian operasi menimbulkan spekulasi tentang pergeseran strategi. Trump kemudian mengumumkan langkah baru berupa operasi ekonomi skala besar yang disebut "Hari-H Ekonomi", dengan tujuan memaksa Iran menjadi negara terisolasi secara finansial.
Dalam langkah konkret, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan paket sanksi baru yang menargetkan hampir 60 entitas, termasuk 21 yang berlokasi di China. Sanksi ini menekan sektor perbankan, perdagangan, dan logistik, dengan ancaman pengecualian dari sistem keuangan dolar AS bagi semua pihak yang tetap menjalin hubungan dengan Iran. Tujuan utamanya adalah memaksa negara-negara mitra untuk memutus kerja sama ekonomi, sehingga menciptakan tekanan eksternal yang berkepanjangan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Prancis Catat Kematian Pertama Akibat Virus Shamonda pada Manusia
Prancis melaporkan kematian pertama manusia akibat infeksi virus Shamonda, yang menyerang pasien dengan imunodefisiensi berat, menjadi kasus global pertama tanpa risiko kesehatan umum saat ini.
25 Oktober 2026

Widodo AS: Pahlawan Transisi Demokrasi yang Tak Terlupakan
Mantan Panglima TNI Widodo Adi Sutjipto meninggal dunia pada usia 82 tahun, meninggalkan warisan penting dalam proses reformasi lembaga negara pasca-Orde Baru.
25 Oktober 2026

Tentara AS Didakwa Insider Trading Rp7,2 Miliar
Seorang tentara aktif AS didakwa menggunakan informasi rahasia militer untuk meraih keuntungan hingga Rp7,2 miliar dari pasar prediksi, terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.
25 Oktober 2026

Lutfi dan Dino Berbeda Sikap Soal Tekanan Singapura Terkait Pasar Saham dan Karhutla
Perbedaan pandangan muncul antara dua tokoh publik soal respons terhadap tekanan Singapura terkait klasifikasi pasar modal dan kebakaran hutan, dengan Lutfi menyoroti kepentingan ekonomi dan lingkungan, sementara Dino menekankan pentingnya diplomasi dan kerja sama regional.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Obama: Pemilu Sela adalah Batas Terakhir Menghentikan Kebodohan Politik
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.04 WITA

Serangan di Gereja Karak Tewaskan Sembilan Orang, Raja Yordania Tegaskan Tindakan Tegas
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.03 WITA

Obama Sindir Renovasi Gedung Putih, Sebut Mirip Restoran Mewah
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.03 WITA

12 Orang Terluka dalam Penembakan Dekat Stadion FAMU
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.03 WITA

Singapura Jamin Stabilitas Energi Meski RI Kurangi Ekspor Gas
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.03 WITA

Bantuan Presiden Rp1,24 Triliun Disalurkan untuk Perkuat Penanganan Karhutla
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.02 WITA

Bima Ayman Modjo Luncurkan Single Perdana "Rindu yang Lirih
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.02 WITA

Lula dan Bolsonaro Tutup Kampanye di Pantai Rio
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.01 WITA

