Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Pertimbangkan Nuklir Jika Iran Tak Tunduk

Mantan penasihat antiterorisme AS menyatakan ancaman penggunaan senjata nuklir terhadap Iran makin realistis jika upaya konvensional gagal, menyusul kegagalan strategi militer dan ekonomi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 23.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Trump Pertimbangkan Nuklir Jika Iran Tak Tunduk📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Amerika Serikat dikabarkan sedang menimbang opsi penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap ketahanan Iran, setelah seluruh upaya diplomasi dan tekanan militer konvensional dianggap tidak efektif. Pernyataan ini disampaikan oleh mantan penasihat keamanan nasional presiden AS, Joe Kent, dalam wawancara dengan podcaster terkemuka, yang menekankan bahwa dalam skenario tertentu, penggunaan senjata pemusnah massal tidak lagi dianggap tabu. Ia menyatakan bahwa jika pemerintahan saat ini terus bersikeras menggulingkan kepemimpinan Teheran, pilihan terbatas hanya dua: operasi darat besar-besaran atau serangan nuklir.

Kent menyoroti bahwa kegagalan dalam mencapai tujuan militer di medan perang, termasuk gagal merusak infrastruktur kunci Iran, telah mendorong pertimbangan ekstrem. Ia menilai bahwa operasi darat tidak layak diterapkan mengingat kompleksitas geografi dan kepadatan penduduk di Iran. Dalam konteks itu, serangan nuklir terbatas—khususnya terhadap fasilitas pengayaan uranium bawah tanah yang tersebar di wilayah pegunungan—dipandang sebagai alternatif yang mungkin dipertimbangkan secara strategis.

Ancaman ini muncul setelah AS menangguhkan serangan militer terbarunya terhadap Iran, yang disebut sebagai respons atas keterbatasan amunisi presisi dan rudal pertahanan. Meski Pentagon membantah kehabisan stok senjata, keputusan penghentian operasi menimbulkan spekulasi tentang pergeseran strategi. Trump kemudian mengumumkan langkah baru berupa operasi ekonomi skala besar yang disebut "Hari-H Ekonomi", dengan tujuan memaksa Iran menjadi negara terisolasi secara finansial.

Dalam langkah konkret, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meluncurkan paket sanksi baru yang menargetkan hampir 60 entitas, termasuk 21 yang berlokasi di China. Sanksi ini menekan sektor perbankan, perdagangan, dan logistik, dengan ancaman pengecualian dari sistem keuangan dolar AS bagi semua pihak yang tetap menjalin hubungan dengan Iran. Tujuan utamanya adalah memaksa negara-negara mitra untuk memutus kerja sama ekonomi, sehingga menciptakan tekanan eksternal yang berkepanjangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya