Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Trump Setujui Serangan Udara Saudi ke Bandara Sanaa

Presiden AS Donald Trump disebut telah menyetujui serangan udara Arab Saudi terhadap bandara Sanaa sebelum kedatangan pesawat yang membawa pemimpin Houthi dari Iran.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Trump Setujui Serangan Udara Saudi ke Bandara Sanaa
Foto: Tempo

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Pertahanan Yaman yang diakui secara internasional mengonfirmasi telah melakukan operasi udara di bandara Sanaa pada Senin, 13 Juli 2026, sebelum kedatangan pesawat yang membawa pemimpin gerakan Ansar Allah dari Iran. Serangan tersebut dilakukan dalam waktu dekat sebelum kedatangan pesawat, yang dikabarkan membawa tokoh-tokoh penting Houthi. Sumber lokal di Yaman mengungkapkan tiga serangan menghantam fasilitas udara ibu kota yang dikuasai kelompok Houthi pada hari yang sama.

Laporan yang dikutip dari sumber AS menyebut bahwa permintaan serangan tersebut berasal dari Riyadh dan diproses melalui komunikasi langsung antara pejabat Arab Saudi dan Washington. Dalam percakapan telepon, Presiden Donald Trump memberikan persetujuan atas operasi militer Saudi. Keputusan ini diambil dalam konteks ketegangan regional yang memburuk, menyusul rencana kedatangan delegasi Houthi dari Iran.

Kelompok Houthi menyalahkan Arab Saudi atas serangan tersebut, menyatakan bahwa aksi itu merupakan bagian dari strategi penguatan tekanan militer terhadap gerakan mereka. Namun, pihak Kementerian Pertahanan Yaman menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan secara mandiri dan bertujuan untuk melindungi keamanan nasional. Tidak ada korban sipil dilaporkan dalam serangan yang menargetkan fasilitas bandara.

Mohammed al-Farah, anggota biro politik Houthi, menanggapi dengan menuding Amerika Serikat mendorong Arab Saudi untuk memperluas konflik. Ia menekankan bahwa serangan tersebut bukan sekadar tindakan militer, melainkan bagian dari intervensi asing yang mengancam stabilitas Yaman. Pernyataan ini menyoroti kembali peran AS dalam dinamika konflik di kawasan, terutama dalam konteks kebijakan luar negeri yang menilai kembali kemitraan strategis di Timur Tengah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya