Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Tukang Becak Magelang Menang Undian Rp1 Miliar, Jadi Miliarder di Era 1990

Seorang tukang becak asal Magelang, Sayat, mendadak menjadi miliarder setelah menang undian SDSB pada 1990 dengan hadiah Rp1 miliar, yang setara dengan 12 rumah di Pondok Indah atau 50 kilogram emas saat itu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 15.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Tukang Becak Magelang Menang Undian Rp1 Miliar, Jadi Miliarder di Era 1990
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada 9 Mei 1990, kehidupan Sayat, tukang becak dari Magelang, berubah secara drastis setelah nomor kupon Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) yang ia beli dari hasil tabungan sehari-hari keluar sebagai pemenang utama. Dengan hadiah senilai Rp1 miliar, jumlah yang luar biasa besar pada era itu, ia menjadi sorotan nasional karena latar belakang sosial yang sangat sederhana. Saat pengumuman pemenang disiarkan lewat radio, suara penyiar yang mengucapkan angka 849379 membuatnya tercengang—nomor tersebut persis sesuai dengan kupon miliknya.

Kemenangan itu mengguncang masyarakat Magelang, khususnya karena sosok yang menang berasal dari kalangan pekerja harian dengan kondisi ekonomi terbatas. Media lokal melaporkan bahwa Sayat, yang hidup di rumah berdinding bambu, langsung keluar rumah dan sujud syukur di tanah halamannya, menunjukkan rasa kagum dan terharu yang mendalam. Keberhasilan ini bukan sekadar keberuntungan, tetapi juga simbol dari harapan yang bisa terwujud, meski dari latar belakang yang paling sederhana.

Dalam konteks ekonomi tahun 1990, nilai Rp1 miliar memiliki daya beli yang sangat tinggi. Harga rumah di kawasan elite seperti Pondok Indah diperkirakan mencapai Rp80 juta per unit, sehingga uang tersebut mampu membeli sekitar 12 properti. Di sisi lain, harga emas saat itu berkisar Rp20 ribu per gram, artinya dengan hadiah tersebut, Sayat bisa membeli hingga 50 kilogram emas—jumlah yang sangat signifikan.

Setelah menerima uang, Sayat tidak langsung menghabiskannya. Sebagian besar ditempatkan dalam bentuk deposito untuk menjaga nilai aset, sementara sisanya digunakan untuk membeli rumah dan menyekolahkan anak-anaknya. Ia kemudian memilih tidak lagi mengikuti program SDSB, fokus pada ibadah, membangun masjid, serta mengasuh keluarga hingga akhir hayatnya. Program SDSB sendiri kemudian dihentikan oleh pemerintah pada tahun 1993.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya