Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Usaha Kue Rumahan Jadi Produktif, Dermiyanti Dorong Ekonomi Lokal

Dari modal awal Rp2 juta, Dermiyanti kini mampu memproduksi 3.000 bolu harian melalui pendampingan berkelanjutan dari PNM Mekar.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 07.45 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Usaha Kue Rumahan Jadi Produktif, Dermiyanti Dorong Ekonomi Lokal
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Dermiyanti, pelaku usaha mikro dari Sulawesi Tenggara, berhasil mengubah usaha kue rumahan menjadi produksi skala menengah berkat dukungan permodalan dan pendampingan berkelanjutan. Awalnya, ia memulai dari dapur kecil dengan kapasitas produksi terbatas, namun dengan tekad dan konsistensi, usahanya perlahan berkembang. Pada 2014, ia memulai aktivitas produksi kue secara mandiri, meski belum memiliki jaringan pasar yang luas.

Keberhasilan besar dimulai pada 2018 ketika ia menjadi nasabah PNM Mekar dan menerima pinjaman awal sebesar Rp2 juta. Dengan dana tersebut, ia mampu memperluas kapasitas produksi dan memperbaiki kualitas produk. Melalui proses pendampingan yang terus-menerus, modal usaha terus meningkat hingga mencapai hampir Rp10 juta, yang menjadi fondasi penting dalam menjaga kelangsungan dan pertumbuhan usaha.

Pendampingan tidak hanya berupa dukungan finansial, tetapi juga pelatihan dan akses ke wawasan baru. Pada 2024, Dermiyanti diberi kesempatan mengikuti studi banding ke Bogor, tempat ia memperoleh inspirasi baru dalam pengolahan bahan baku dan inovasi resep. Pengalaman ini menjadi pemicu perbaikan proses produksi dan meningkatkan daya saing produk di pasar lokal.

Kini, rumah produksi miliknya mampu menghasilkan hingga 3.000 bolu setiap hari, menyerap tenaga kerja lokal, dan memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian di wilayah sekitar. Kisahnya menjadi bukti bahwa dengan dukungan yang tepat, usaha kecil berpotensi tumbuh menjadi pelaku ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya