Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wali Kota Prancis Berdiri di Depan Demonstran Pelajar Saat Aparat Bentrok

Wali Kota Saint Denis, Bally Bagayoko, viral karena melindungi pelajar demo dari serbuan polisi saat protes soal kondisi sekolah yang buruk dan ketidaksetaraan pendidikan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 23.24 WITA·👁 3 orang membaca· 1 hari ini · 80x dibuka
Wali Kota Prancis Berdiri di Depan Demonstran Pelajar Saat Aparat Bentrok📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wali Kota Saint Denis, Bally Bagayoko, menjadi sorotan global setelah rekaman video menunjukkannya berdiri tegak di barisan depan saat polisi anti huru-hara berusaha menerobos barisan demonstran pelajar. Dalam aksi yang direkam oleh peserta demo, Bagayoko mengenakan setelan jas, berani menghadang pasukan keamanan yang mendekat dengan tangan terbuka, menunjukkan sikap protektif terhadap para siswa. Di belakangnya, asap hitam mengepul dari lokasi konflik, mencerminkan ketegangan yang memuncak.

Aksi tersebut terjadi dalam konteks gelombang protes pelajar di berbagai wilayah Prancis yang menyoroti kondisi fasilitas sekolah yang memprihatinkan. Banyak sekolah menengah, terutama di daerah pinggiran, mengalami kerusakan struktural seperti atap bocor, dinding berlubang, hingga toilet yang tak berfungsi. Tikus berkeliaran di dalam kelas, meja dan kursi tidak mencukupi, serta keterbatasan tenaga pengajar yang memengaruhi kualitas pembelajaran.

Bagayoko sendiri terkena dampak langsung dari penggunaan gas air mata oleh polisi. Dalam rekaman lain, terlihat sejumlah warga memapahnya sambil meneteskan obat mata untuk meredakan iritasi akibat paparan bahan kimia. Aksi ini menggambarkan kesadaran politik dan komitmen terhadap hak pendidikan, terutama bagi generasi muda yang merasa sistem pendidikan tidak adil dan tidak memadai.

Para pelajar menekankan bahwa durasi belajar di Prancis jauh lebih panjang dibanding rata-rata negara anggota OECD, berlangsung dari pukul 08.00 hingga 18.00 waktu setempat dengan banyak jeda. Namun, kualitas proses pendidikan tetap rendah karena faktor infrastruktur dan sumber daya manusia yang minim. Mereka menuntut perbaikan sistem pendidikan secara menyeluruh, termasuk peningkatan fasilitas dan penyeimbangan akses antar wilayah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya