Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Yield AS Tembus 5,48%, Tekanan Global Menguat

Kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam 22 tahun memicu kekhawatiran terhadap arus modal dan nilai tukar rupiah di pasar keuangan global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 15.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Yield AS Tembus 5,48%, Tekanan Global Menguat📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun melonjak ke angka 5,48 persen, mencatat rekor tertinggi sejak 2004. Kenaikan ini mencerminkan penurunan harga obligasi dan menunjukkan ketegangan di pasar keuangan global. Pemicunya berasal dari ekspektasi inflasi yang masih tinggi, pertumbuhan ekonomi AS yang kuat, serta peningkatan belanja fiskal pemerintah. Angka tersebut didukung oleh data dari pasar internasional pada Kamis (24/9), dengan yield tenor 10 tahun AS juga mencapai 5,20 persen, menandakan tekanan yang meluas di pasar surat utang negara maju.

Tidak hanya AS, tekanan serupa juga dirasakan oleh negara-negara maju lainnya. Di Jerman, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sempat menyentuh 3,6 persen, level tertinggi dalam 17 tahun. Sementara itu, Jepang mengalami kenaikan yield tenor 10 tahun hingga mencapai titik tertinggi sejak 1996. Kenaikan tersebut mengindikasikan meningkatnya biaya pendanaan pemerintah di negara-negara besar, termasuk perkiraan pinjaman federal Jerman yang diperkirakan mencapai 525,5 miliar euro pada 2026, dengan proyeksi kenaikan lagi di tahun berikutnya.

Dalam konteks Indonesia, para analis memperingatkan adanya potensi arus keluar modal asing dari pasar berkembang, terutama jika tren yield tinggi di AS dan Jepang berlanjut. Namun, menurut Ronny P. Sasmita dari ISEAI, fenomena tersebut tidak otomatis mengakibatkan capital flight. Ia menekankan bahwa investor global kini lebih selektif, dengan pertimbangan risiko kurs dan fundamental ekonomi domestik. Indonesia dinilai memiliki ketahanan melalui cadangan devisa yang cukup, surplus perdagangan, serta kebijakan moneter yang terjaga, sehingga risikonya lebih pada tekanan arus modal daripada keluar masuk besar-besaran.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan bahwa kenaikan yield global menandakan biaya dana global akan tetap tinggi dalam jangka panjang. Meski demikian, pergeseran dana ke aset AS tidak selalu terjadi secara langsung. Investor tetap mempertimbangkan volatilitas kurs dan risiko portofolio jangka pendek. Ia juga memperingatkan bahwa penguatan yen akibat kenaikan yield Jepang bisa mengurangi aliran dana ke pasar berkembang, termasuk melalui penutupan transaksi carry trade. Dampak terbesar bagi Indonesia terletak pada arus portofolio, biaya pendanaan, dan nilai tukar rupiah, namun tetap ada ruang mitigasi melalui imbal hasil domestik dan basis investor dalam negeri.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya