Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Zulhas Soroti Kesejahteraan Petani sebagai Kunci Ketahanan Pangan

Menteri Koordinator Pangan tegaskan kesejahteraan petani sebagai fondasi utama ketahanan pangan nasional, menyebut impor beras 2024 berdampak pada harga gabah dan ancaman kehilangan lahan pertanian.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 11.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Zulhas Soroti Kesejahteraan Petani sebagai Kunci Ketahanan Pangan
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ketahanan pangan di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, melainkan juga oleh kondisi ekonomi petani sebagai pelaku utama di lapangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan bahwa kesejahteraan petani harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan pangan nasional. Ia menyoroti bahwa ketidakmampuan petani dalam mempertahankan kehidupan produktif berpotensi mengancam keberlanjutan pasokan pangan di masa depan.

Pada tahun 2024, Indonesia masih harus mengimpor beras meskipun memiliki potensi produksi domestik yang cukup. Kondisi ini menurunkan harga gabah di tingkat petani, yang pada gilirannya memperparah keterpurukan ekonomi petani. Ketika harga gabah turun, petani kesulitan membiayai kebutuhan produksi, termasuk benih, pupuk, dan tenaga kerja. Akibatnya, banyak petani terpaksa menjual atau menggadaikan lahan pertanian mereka demi bertahan hidup.

Zulhas menyampaikan bahwa kehilangan lahan pertanian bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga ancaman terhadap keamanan pangan nasional. “Lama-lama petani ini nggak punya sawah lagi karena miskin. Sawahnya dijual atau digadai, tuh dampaknya soal makan,” tegasnya. Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan yang sejati harus melibatkan keberlangsungan hidup petani sebagai produsen utama, bukan sekadar memastikan stok beras di gudang.

Kebijakan pangan yang berkelanjutan, menurutnya, harus mampu menjaga harga gabah tetap layak dan memberikan perlindungan kepada petani dari fluktuasi pasar. Tanpa itu, keberhasilan program swasembada pangan akan sulit terwujud secara nyata. Dengan demikian, kesejahteraan petani bukan sekadar tujuan sosial, melainkan fondasi strategis bagi ketahanan pangan nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya