20 Tahun Perang, Afghanistan Kembali ke Tangan Taliban
Penarikan militer AS dari Afghanistan pada 2021 menandai akhir dramatis dari pendudukan dua dekade yang gagal menciptakan stabilitas dan demokrasi.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 05.48 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 15x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Pada 30 Agustus 2021, dunia menyaksikan momen yang menjadi simbol kegagalan kebijakan luar negeri terbesar Amerika Serikat dalam abad ini. Dalam kondisi kacau, warga Afghanistan berduyun-duyun menuju bandara Kabul, berharap bisa naik pesawat evakuasi. Di tengah keramaian itu, seorang perwira militer AS terakhir—Mayor Jenderal Chris Donahue—meninggalkan tanah Afghanistan, berdiri dalam bayangan gelap, menjadi gambar ikonik dari penarikan yang memalukan.
Perang yang dimulai pada 7 Oktober 2001 sebagai respons atas serangan 11 September, awalnya digambarkan sebagai misi kontraterorisme untuk menumpas al-Qaeda dan Taliban. Namun, dalam dua dekade, tujuan itu justru tergantikan oleh pendudukan militer yang berkepanjangan. Dengan biaya triliunan dolar dan ratusan ribu korban sipil, Amerika gagal menciptakan sistem pemerintahan yang berdaulat, sekalipun menggantungkan keberlangsungan negara pada dukungan militer dan keuangan asing.
Taliban, meski didukung oleh senjata ringan dan strategi gerilya, mampu bertahan dan merebut kembali kekuasaan secara cepat. Penyerbuan Kabul terjadi tanpa perlawanan signifikan dari pasukan pemerintah yang telah dibiayai dan dilatih oleh AS. Pemerintahan yang dibentuk pasca-2001, termasuk era Hamid Karzai, terbukti tak mampu membangun legitimasi nasional, melainkan menjadi alat kepentingan strategis Washington.
Perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada Februari 2020 oleh pemerintahan Trump dengan Taliban secara tak langsung mengakui kegagalan militer. Penarikan pasukan yang kemudian dipercepat oleh Presiden Joe Biden tidak diikuti dengan jaminan keamanan atau transisi politik yang stabil. Lima tahun setelah kejatuhan Kabul, Taliban kembali mengendalikan negara, memperingati kemenangan dengan perayaan publik di seluruh wilayah.
Kini, Afghanistan kembali menjadi negara yang menghadapi tantangan besar: membangun stabilitas tanpa dukungan asing, menyelesaikan krisis kemanusiaan, dan menghadapi kembali isu hak asasi manusia. Sementara itu, dunia menyaksikan ulang bukti bahwa pendudukan militer justru memperparah konflik, bukan menyelesaikannya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Kanye West Tutup Konser GBK dengan Runaway Emosional
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

