Kamis, 8 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Air Mineral dan Demineral: Pemahaman Benar untuk Kesehatan yang Tepat

Perbedaan kandungan mineral antara air mineral dan demineral memengaruhi manfaatnya bagi tubuh, terutama bagi penderita gangguan ginjal yang memerlukan penyesuaian asupan elektrolit.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 8 Oktober 2026, 12.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Air Mineral dan Demineral: Pemahaman Benar untuk Kesehatan yang Tepat📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Air minum yang dianggap seragam dalam bentuk dan fungsi ternyata memiliki perbedaan mendasar berdasarkan kandungan mineralnya. Air mineral mengandung mineral alami seperti kalsium, magnesium, natrium, dan kalium yang berasal dari sumber air tanah, dengan konsentrasi yang bervariasi tergantung lokasi dan proses pengolahan. Sebaliknya, air demineral merupakan hasil proses pengolahan intensif seperti reverse osmosis atau deionisasi, yang mengurangi hampir seluruh mineral terlarut dalam air. Istilah "demineral" tidak berarti air tersebut tidak layak dikonsumsi, melainkan menunjukkan rendahnya kadar mineralnya.

Mineral dalam air bukan sekadar komponen kosmetik pada label, melainkan berperan penting dalam fungsi fisiologis tubuh. Kalsium mendukung kesehatan tulang dan gigi, serta memastikan transmisi saraf dan pembekuan darah berjalan normal. Magnesium, di sisi lain, turut berkontribusi pada aktivitas otot, metabolisme energi, dan keseimbangan jantung. Menurut riset dari Universitas Indonesia, air mineral yang kaya kalsium dapat menyumbang hingga sekitar 25 persen kebutuhan harian kalsium, sementara air dengan kandungan magnesium tinggi mampu memberi kontribusi 6 hingga 17 persen dari asupan harian magnesium. Meskipun begitu, asupan utama mineral tetap berasal dari makanan.

Keputusan memilih antara air mineral atau demineral tidak bisa ditentukan secara mutlak berdasarkan label saja. Bagi individu sehat, asupan mineral tetap dominan berasal dari makanan, sehingga pilihan jenis air tidak menimbulkan dampak signifikan. Namun, bagi penderita penyakit ginjal kronis (CKD), situasinya berbeda. Fungsi ginjal yang menurun membuat tubuh kesulitan mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Dalam kondisi ini, asupan natrium, kalium, dan fosfor harus dikontrol ketat. Karena kandungan mineral dalam air mineral bervariasi, tidak semua jenis air mineral cocok untuk pasien CKD.

Oleh karena itu, air demineral—dengan kandungan mineral yang sangat rendah—dapat menjadi alternatif yang dipertimbangkan, terutama untuk menghindari akumulasi mineral tertentu yang berisiko bagi fungsi ginjal. Namun, hal ini tidak berarti semua pasien CKD harus mengonsumsi air demineral. Penyesuaian jenis dan jumlah cairan harus dilakukan secara personal, berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi elektrolit, dan terapi yang sedang dijalani. Dalam praktiknya, keputusan terbaik selalu didukung oleh rekomendasi dokter atau ahli gizi, bukan hanya berdasarkan label produk.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya