Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Airlangga Dorong Revisi RUPTL untuk Atasi Kebutuhan Listrik 2030

Pemerintah perlu merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik guna memenuhi proyeksi kebutuhan energi 700–800 TWh pada 2030 dan percepatan transisi energi melalui solar panel 100 GW.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 15.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Airlangga Dorong Revisi RUPTL untuk Atasi Kebutuhan Listrik 2030📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah memandang perlu melakukan revisi menyeluruh terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) guna menyesuaikan dengan lonjakan kebutuhan energi nasional hingga tahun 2030. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa proyeksi konsumsi listrik pada dekade depan diperkirakan mencapai angka antara 700 hingga 800 terawatt jam. Angka ini jauh melampaui kapasitas tambahan pembangkit yang saat ini direncanakan, yaitu sekitar 69,5 gigawatt, yang menurutnya tidak cukup memadai.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menekankan pentingnya mempercepat pengembangan sumber energi terbarukan, khususnya energi surya. Target yang ditetapkan adalah mencapai kapasitas instalasi panel surya hingga 100 gigawatt peak dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Airlangga menegaskan bahwa pencapaian target ini berpotensi mempercepat pencapaian net zero emission dari tahun 2060 menjadi 2045–2050, asalkan implementasi berjalan optimal.

Selain sumber energi, infrastruktur jaringan listrik juga menjadi fokus utama. Pemerintah telah menyiapkan rencana pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer, termasuk pengembangan sistem smart grid untuk meningkatkan efisiensi dan stabilitas pasokan. Investasi ini dinilai krusial untuk mendukung transformasi energi, sekaligus menopang pertumbuhan sektor strategis seperti data center dan kecerdasan buatan yang membutuhkan pasokan listrik yang andal dan terjangkau.

Dalam kerangka yang lebih luas, pemerintah juga memperkuat agenda digitalisasi dan hilirisasi. Salah satu langkah strategis adalah penandatanganan Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN (Digital Economy Framework Agreement/DEFA) yang direncanakan dilakukan di Manila pada November mendatang. Airlangga menilai kesepakatan ini dapat meningkatkan nilai ekonomi digital kawasan dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun, yang setara dengan Rp18,024 hingga Rp36,048 kuadriliun berdasarkan kurs asumsi Rp18.024 per dolar AS.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya