Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Kuasai Ladang Minyak Venezuela, Gantikan Peran China dan Rusia

Perusahaan minyak AS NABEP mengambil alih 14 proyek dari China dan Rusia di Venezuela, bagian dari kesepakatan produksi minyak besar yang memindahkan aliran energi ke pasar AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 03.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AS Kuasai Ladang Minyak Venezuela, Gantikan Peran China dan Rusia
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Perusahaan minyak Amerika Serikat, North American Blue Energy Partners (NABEP), resmi mengambil alih sejumlah wilayah kerja minyak di Venezuela yang sebelumnya dikelola oleh perusahaan asal China dan Rusia. Langkah ini merupakan bagian dari kerja sama energi strategis antara pemerintah AS dan Venezuela, yang diumumkan dalam konteks perubahan arah ekspor minyak negara Amerika Selatan.

Dalam kesepakatan tersebut, NABEP mendapatkan 14 kontrak baru dari pemerintah Venezuela dan berencana mengelola total 17 proyek energi, termasuk lima wilayah yang sebelumnya dikelola perusahaan China melalui skema kerja sama masa pemerintahan mantan Presiden Nicolas Maduro. Satu ladang lainnya yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan Rusia juga kini berpindah kendali. Dua proyek tambahan sebelumnya dikelola afiliasi Alex Saab, tokoh dekat mantan pemimpin Venezuela yang kini ditahan di AS.

Tujuan utama dari peralihan ini adalah memindahkan aliran minyak Venezuela dari pasar China ke pasar Amerika Serikat. Seorang pejabat AS menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya membuka akses bagi perusahaan AS dalam sektor energi strategis, tetapi juga memperkuat ketergantungan produksi minyak Venezuela pada pasar AS. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan stabilitas ekonomi dan pengaruh geopolitik Washington di kawasan.

Penguasaan atas aset minyak tersebut secara efektif mengurangi pengaruh China dan Rusia dalam sektor energi Venezuela, yang selama bertahun-tahun menjadi mitra utama dalam pengelolaan cadangan minyak terbesar di dunia. Dengan demikian, AS kini mendapatkan kendali lebih besar atas produksi, distribusi, dan arah pasar minyak dari negara yang memiliki cadangan 65 miliar barel.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya