Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Percepat Aksi Militer demi Pecah Kebuntuan dengan Iran

Serangan terbuka AS ke fasilitas roket Iran di Pulau Larak mencerminkan frustrasi Washington atas gagalnya sanksi ekonomi memaksa Teheran menyerah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 11.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AS Percepat Aksi Militer demi Pecah Kebuntuan dengan Iran
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Amerika Serikat kembali melakukan tindakan militer terbuka dengan menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak, menandai penghentian jeda pertempuran sekitar sebulan terakhir. Serangan ini dilakukan saat Teheran sedang bersiap mengirimkan roket bermuatan ranjau ke Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis global. Respons cepat dari Washington menunjukkan pergeseran taktik setelah tekanan ekonomi tidak menghasilkan perubahan signifikan dalam kebijakan Iran.

Iran segera membalas dalam hitungan jam dengan meluncurkan delapan rudal ke pangkalan udara King Hussein dan Al Azraq di Yordania. Menurut pemerintah Amman, semua rudal berhasil ditepis oleh sistem pertahanan udara negara itu. Analis keamanan maritim Ian Ralby menilai aksi AS tersebut bukan perubahan strategi besar, melainkan upaya menciptakan perubahan di tengah stagnasi situasi yang telah berlangsung lama. Ia menegaskan bahwa tekanan finansial yang digunakan AS belum mampu mengubah perilaku Iran secara mendasar.

Ancaman serius juga datang dari Presiden AS Donald Trump, yang menyatakan akan menghancurkan Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—jika tekanan tidak berdampak. Namun, Ralby menyebut ancaman itu kemungkinan besar bersifat retorika, mengingat serangan terhadap pulau tersebut berisiko merusak infrastruktur energi dan situs budaya penting. Iran diperkirakan akan menghindari konfrontasi langsung dengan AS, melainkan memilih jalur perlawanan asimetris melalui kelompok sekutu dan ancaman terhadap arus pelayaran global.

Dampak ekonomi dari ketegangan terkini mulai terasa. Kepala ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, memperkirakan sekitar 7 juta barel minyak per hari yang sebelumnya mengalir melalui Selat Hormuz mengalami penurunan pada pekan lalu. Ia memperingatkan bahwa penurunan arus tersebut berpotensi menaikkan harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan. Di sisi lain, muncul spekulasi soal kemungkinan penggunaan senjata nuklir, menyusul pernyataan mantan penasihat antiterorisme AS, Joe Kent, yang menyebut opsi tersebut sebagai realistis jika AS terus gagal mencapai tujuannya secara konvensional.

Pentagon dikabarkan mengalami keterbatasan amunisi presisi tinggi dan rudal pencegat, meskipun hal itu dibantah oleh pejabat AS. Sebagai respons, Trump mengumumkan dimulainya "Hari-H Ekonomi", serangkaian sanksi agresif yang menargetkan hampir 60 entitas, termasuk 21 yang berlokasi di China. Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan tujuan utama adalah menjadikan Iran sebagai paria global dengan memutus keterlibatan ekonomi dunia. Setiap entitas yang terlibat dalam pencucian uang untuk Iran akan dikeluarkan dari sistem keuangan dolar AS.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya