Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Setujui Penjualan Senjata Rp35 Triliun ke Arab Saudi

Amerika Serikat menyetujui penjualan senjata senilai AS$1,96 miliar untuk memperkuat pertahanan udara Arab Saudi di tengah meningkatnya ancaman dari Yaman dan ketegangan regional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AS Setujui Penjualan Senjata Rp35 Triliun ke Arab Saudi
Foto: Tempo

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Amerika Serikat telah memberikan persetujuan resmi atas rencana penjualan senjata bernilai 1,96 miliar dolar AS, setara sekitar 35 triliun rupiah, kepada Arab Saudi. Keputusan ini diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS pada hari Rabu, 16 Juli, sebagai bagian dari strategi peningkatan keamanan sekutu di kawasan Teluk. Penjualan yang dilakukan melalui mekanisme Foreign Military Sales bertujuan untuk mendukung stabilitas keamanan dan kemandirian pertahanan Riyadh dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang.

Paket senjata yang disetujui mencakup hingga 20 ribu sistem APKWS (Advanced Precision Kill Weapon Systems), termasuk peluncur, hulu ledak berdaya ledak tinggi, dan komponen roket. Sistem ini dirancang untuk akurasi tinggi dalam operasi jarak dekat, meminimalkan kerusakan area sekitar. Selain itu, Arab Saudi juga akan menerima peralatan pendukung pertahanan lainnya yang diperlukan untuk memperkuat sistem pertahanan udara negara. BAE Systems, perusahaan asal New Jersey, menjadi kontraktor utama dalam transaksi ini.

Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa penjualan tersebut sejalan dengan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Washington. Dengan meningkatkan kemampuan pertahanan Arab Saudi, diharapkan dapat menurunkan ketergantungan terhadap sistem pertahanan mahal seperti Patriot, sekaligus memperkuat interoperabilitas dengan pasukan AS dan sekutu NATO. Pihak AS juga menegaskan bahwa penjualan tidak akan mengganggu kesiapan militer Amerika Serikat secara keseluruhan.

Ancaman dari kelompok Houthi di Yaman menjadi latar belakang utama dari persetujuan ini. Pada 13 Juli, Houthi menembakkan rudal ke Bandara Abha, yang memicu kekhawatiran atas eskalasi konflik. Pernyataan pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi, mengancam akan menyerang infrastruktur vital Arab Saudi jika Riyadh terlibat dalam eskalasi. Di sisi lain, ketegangan dengan Iran juga memburuk, dengan AS memperketat blokade laut dan meningkatkan operasi militer, yang memperkuat alasan kebijakan penjualan senjata ke Riyadh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya