Demonstran Muda India Tuntut Mundurnya KPU atas Revisi Daftar Pemilih
Ratusan demonstran ditangkap di New Delhi dalam aksi protes menuntut pengunduran diri Kepala KPU Gyanesh Kumar terkait revisi daftar pemilih yang menghapus 130 juta nama.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 11 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kepolisian New Delhi menahan sekitar dua ratus demonstran muda pada Sabtu (10/10/2026) dalam operasi penegakan hukum menyusul rencana aksi protes besar-besaran. Aksi tersebut digerakkan oleh kelompok pemuda bernama Cockroach Janta Party (CJP), yang menuntut Kepala Komisi Pemilihan Umum India, Gyanesh Kumar, mengundurkan diri atas kebijakan revisi daftar pemilih yang menghapus sekitar 130 juta nama pemilih. Sejumlah saksi melaporkan polisi mengejar demonstran di kawasan pusat kota, kemudian memasukkan mereka ke dalam kendaraan dinas dan membawa pergi.
Pengamanan diperketat dengan penutupan stasiun metro, pasar, dan layanan internet seluler. Barikade beton dipasang di sejumlah akses utama kota, sementara kendaraan pengendali massa dilengkapi pelontar gas air mata disiagakan di lokasi strategis. Beberapa bus dan kendaraan lainnya diperiksa secara menyeluruh oleh petugas untuk mengantisipasi kehadiran demonstran. Seorang tokoh populer di media digital, Dhruv Rathee, juga dilaporkan ditahan di luar wilayah Delhi.
Aksi yang digelar di Jantar Mantar, lokasi resmi untuk demonstrasi di ibu kota, dinyatakan sebagai bagian dari gerakan nasional bernama "Menyelamatkan Demokrasi". Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, menilai tindakan pemerintah terlalu represif dan menunjukkan ketakutan terhadap kebebasan berekspresi kaum muda. Ia menegaskan bahwa penutupan layanan publik dan pembatasan komunikasi bukan langkah antisipatif, melainkan bentuk intimidasi terhadap rakyat.
Revisi daftar pemilih yang menjadi pemicu aksi tersebut didasarkan pada laporan media India yang menyebut sejumlah pejabat KPU mempertanyakan kebijakan revisi yang menghapus 130 juta nama, jumlah yang setara dengan populasi Jepang. Partai oposisi menilai kebijakan ini menguntungkan Partai Bharatiya Janata (BJP), yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi, dan berpotensi memengaruhi hasil pemilu. Sejumlah hasil pemilihan negara bagian yang dimenangkan BJP disebut dipengaruhi oleh penghapusan nama pemilih.
Komisi Pemilihan Umum India membantah tuduhan manipulasi dan menjelaskan bahwa jumlah 130 juta nama yang dihapus merupakan hasil sementara dari tahap verifikasi draf. Dari total tersebut, 63 juta tercatat pindah alamat, 30 juta tidak dapat dilacak, dan 28 juta telah meninggal. Komisi menegaskan proses verifikasi belum selesai, dan pemilih yang terhapus secara keliru masih dapat mengajukan keberatan dan mendaftar kembali. Meski begitu, kelompok oposisi dan aktivis menekankan perlunya transparansi lebih lanjut demi menjaga integritas pemilu di negara demokrasi terbesar dunia.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Trump Salah Sebut Nama Kandidat Muslim, El-Sayed Balas dengan Sindiran
Presiden AS Donald Trump menyerang kandidat Demokrat Abdul El-Sayed dengan tuduhan simpatisan teroris, lalu keliru menyebut namanya sebagai Muhammad, memicu respons tajam dari sang kandidat di kampanye publik.
11 Oktober 2026

Serangan Rudal Houthi Tewaskan 12 Orang di Bandara Riyadh
Serangan rudal oleh kelompok Houthi terhadap Bandara Internasional Riyadh menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya, memicu peringatan keamanan global.
11 Oktober 2026

Tentara AS Didakwa Manfaatkan Rahasia Operasi untuk Untungkan Diri di Pasar Prediksi
Seorang tentara aktif Amerika Serikat didakwa atas dugaan penggunaan informasi rahasia militer untuk meraih keuntungan lebih dari US$400.000 melalui platform prediksi berbasis blockchain, dengan total kerugian keuangan yang terjadi mencapai sekitar Rp6,89 miliar.
10 Oktober 2026

Kerajaan Gula Oei Tiong Ham Runtuh dalam Sehari
Perusahaan gula milik Oei Tiong Ham yang pernah dominan di Hindia Belanda hancur akibat penyitaan aset oleh negara pada 1961, yang kemudian menjadi dasar pendirian BUMN RNI.
10 Oktober 2026
Berita Lainnya

Prabowo Dorong 100 Kampung Nelayan Siap Operasional Akhir 2026
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.30 WITA

Dedi Congor Absen Pemeriksaan KPK karena Sakit, Penyidik Jadwalkan Ulang
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Sewa Bong dan Lapak Narkoba di Dua Kampung di Jakarta Barat
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Dua Tersangka Pembunuhan di Jaktim Diamankan Polisi
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.29 WITA

Jakarta Ungguli New York dalam Tata Kelola Transportasi
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.28 WITA

22 Penyu Hijau Gagal Diselundupkan di Perairan Serangan
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.27 WITA

Malaysia Naikkan Upah Minimum ke Rp8,7 Juta Mulai 2027
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.27 WITA

Digitalisasi Manajemen ASN Kemenkum 2027, Otomatisasi Pengawasan Kinerja
Minggu, 11 Oktober 2026, 09.26 WITA

